Dekan Fasya UIN Salatiga Bedah Isu Radikalisme pada Webinar UIN Kudus

Dekan Fakultas Syariah UIN Salatiga hadir sebagai narasumber utama pada Webinar Nasional Forum Visiting Profesor yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan UIN sunan kudus dengan tema “Sisi Lain Radikalisme Di Kota Toleran Salatiga Dan Kota Santri Kudus.” Webinar yang dihadiri sekitar 53 peserta itu dilaksanakan melalui platfrom zoom, Rabu 18 Februari 2026.

Menghadirkan dua narasumber guru besar yakni Prof. Ilyya Muhsin, M.Si., Dekan Fakultas Syariah UIN Salatiga sebagai narasumber pertama dan Prof. Dr. Moh. Rosyid, M.Pd., M.Hum., dosen UIN Sunan Kudus selaku narasumber kedua.

Acara dibuka dengan sambutan dari Kaprodi Tadris IPS UIN Sunan Kudus, Ahmad Fatah, M.S.I., menyampaikan tujuan dari adanya webinar nasional adalah memperkaya kajian-kajian akademik khususnya pada Prodi Tadris IPS yang sesuai dengan tridarma perguruan tinggi utamanya tema-tema terkait toleransi sebagai hal yang kita butuhkan untuk mengembangkan perdamaian.

“Kedamaian adalah hal urgen dan butuh dikembangkan oleh kita bersama, salah satunya dengan toleransi,” tuturnya

Dalam paparannya, Dekan Fakultas Syariah menyampaikan pengalamannya menangani kasus radikalisme yang pernah terjadi di Kota Salatiga untuk kemudian dilakukan riset sehingga ditemukan beberapa data yang luar biasa terkait kelompok radikalisme Negara Islam Indonesia (NII).

“Di salatiga pada tahun 2012/2013 marak tentang NII (Negara Islam Indonesia) yang ramai di Tv saat itu dan kemudian kita bentuk tim dan saya melacak mahasiswa yang terlibat NII sekaligus saya riset saya kumpulkan mahasiswa saya tanyai mereka yang sudah terlibat dalam ataupun masih dipermukaan meskipun nggak banyak dan bisa dihitung dengan jari tapi saya menemukan data yang sangat luar biasa.”

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa radikalisme seperti terorisme merupakan bentuk kejahatan luar biasa atau extraordinary crime yang memiliki akar sejarah, motif, dan tujuan politik yang spesifik, berkaca pada organisasi yang pernah berkembang di Indonesia.

Kekhawatiran mendalam terhadap keterlibatan mahasiswa dalam kelompok radikal juga turut disampaikan. Menurutnya, mahasiswa adalah calon pemegang estafet kepemimpinan negara yang harus dijaga dari pengaruh ideologi ekstrem.

“Radikalisme bahkan sudah masuk di dunia pendidikan baik sekolah maupun kampus, menyerang generasi penerus bangsa dan menyerang persatuan dan kesatuan NKRI, nah jika pemuda atau siswa yang merupakan calon pemimpin bangsa banyak terpapar radikalisme bagaimana nasib masa depan bangsa ini,” imbuhnya

Sejalan dengan yang disampaikan narasumber pertama, Prof. Dr. Moh. Rosyid, M.Pd., M.Hum., dosen UIN Sunan Kudus menyampaikan materi berkaitan untuk mewaspadai gerakan senyap radikalisme. Dia mengungkapkan fakta bahwa para pelaku radikalisme sering kali merupakan warga lokal (Kudus) yang terpapar paham ekstrem saat merantau ke luar daerah, sebelum akhirnya tertangkap dalam operasi penegakan hukum di luar wilayah Kudus.

Diskusi yang dipandu oleh Noor Fatmawati, M.Pd., ini berlangsung interaktif hingga sesi tanya jawab berakhir. Melalui agenda Visiting Profesor ini, diharapkan sinergi antar-perguruan tinggi semakin kuat dalam membentengi mahasiswa dari pengaruh ideologi radikal demi menjaga keutuhan NKRI.

Kontributor: Muntiatul Badiah (Mahasiwa HES 2023)