Pesan Prof. Yayan: Mahasiswa Syariah Harus Optimis dan Lebih Unggul
Salatiga (11/04/2026) – Di akhir sesi Asesmen Lapangan (AL) Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Tim Media Center Fakultas Syari’ah UIN Salatiga berkesempatan mewawancarai Prof. Dr. Yayan Sopyan, M.Ag., salah satu asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), pada hari Sabtu, 11 April 2026 di lantai 2 gedung dekanat Fakultas Syari’ah. Dalam sesi tersebut, Prof. Yayan memberikan pesan mendalam bagi mahasiswa yang kerap merasa rendah diri atau minder berkuliah di Fakultas Syari’ah.

Prof. Yayan menekankan bahwa latar belakang pendidikan Syari’ah memiliki keunggulan kompetitif yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia mengambil contoh dirinya sendiri yang menempuh jenjang S1 hingga S3 di bidang Syari’ah, meski juga mengambil gelar hukum umum.
“Saya merasa tidak perlu (minder) dan saya mengatakan bawa hukum syariah itu lebih unggul dari pada hukum umum. Sehingga dalam tatanan implementasi bisa dikembangkan. Misalnya ketua LBH Jakarta yang sekarang selalu di TV itu, saudara Isnur (Muhammad Isnur),itu S1 nya di fakultas syariah dan hukum UIN Jakarta. Kemudian banyak aktivis-aktivis hukum yang di Jakarta latar belakangnya satu yakni syariah. Jadi nggak perlu minder,” tegas Prof. Yayan.
Menurutnya, kunci kesuksesan bukan pada nama fakultas, melainkan pada kemauan mahasiswa untuk terus melakukan improvisasi diri. Dia menilai sumber daya manusia dan fasilitas di Fakultas Syari’ah UIN Salatiga sudah sangat memadai.
“Saya kira dengan SDM yang ada di fakulatas syariah UIN Salatiga, bagaimana pimpinan memberikan fasilitas untuk berkembang saya kira sudah memadai, tinggal mahasiswanya mau melakuakan improvisasi itu tidak,” imbuhnya.
Prof. Yayan juga menyoroti letak geografis Salatiga yang kondusif untuk membangun kultur akademik kuat melalui pusat kajian seperti komunitas belajar. Ekosistem kajian yang diinisiasi dosen dan suasana sejuk kampus dinilai berpotensi melahirkan pusat pemikiran baru yang kompetitif. Apalagi di era borderless world, sebuah negara yang tidak ada batasnya lagi, akses ilmu pengetahuan kini sudah setara, sehingga kedalaman kajian serta ketekunan membaca jauh lebih menentukan kualitas intelektual mahasiswa dibandingkan letak geografis kampus.
Menutup sesi wawancara, Prof. Yayan memberikan pesan menyentuh bagi seluruh mahasiswa Fakultas Syariah dengan mengingatkan bahwa proses menuntut ilmu bukanlah sesuatu yang bisa diraih secara instan dan hasilnya tidak langsung dirasakan.
“Belajarlah dengan tekun, kuasai bahasa asing, dan kuasai metodologi. Ingat, ilmu adalah investasi paling mahal dan paling lama, yang keberhasilannya belum tentu dirasakan secara instan. Karena itu, diperlukan sabar, ulet, tekun, dan tawakal,” pungkasnya.
Kontributor: Muntiatul Badiah (Mahasiswa HES 2023)
