Patahkan Rumor Sulit Lulus, Fakultas Syariah UIN Salatiga Lepas 143 Wisudawan
SALATIGA – Fakultas Syariah UIN Salatiga menggelar acara Pelepasan Wisudawan dan Pembekalan Alumni Angkatan ke-11 pada Rabu, 29 April 2026. Agenda tersebut bertempat di lantai 3 gedung dekanat Fakultas Syari’ah UIN Salatiga. Momen ini menjadi catatan sejarah penting karena Fakultas Syariah berhasil meluluskan 143 wisudawan, jumlah tertinggi di antara seluruh fakultas yang ada di UIN Salatiga.
Dari seluruh wisudawan yang lulus, 44 mahasiswa dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), 52 mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah (HES), dan 47 mahasiswa Hukum Tata Negara (HTN). Prestasi ini mendapat apresiasi dari jajaran pimpinan fakultas.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama sekaligus panitia acara, Sukron Ma’mun, Ph.D dalam laporan panitia menyampaikan bahwa jumlah 143 lulusan ini merupakan angka tertinggi di lingkungan universitas pada periode ini.
“Ini menjadi catatan terbanyak di antara fakultas yang lain,” lapornya.

Hal tersebut senada dengan sambutan yang disampaikan Dekan Fakultas Syariah, Prof. Dr. Ilyya Muhsin, S.HI., M.Si., sekaligus menjadi bukti bahwa lulus dari Fakultas Syari’ah tidak sulit sekaligus memiliki kualitas yang mumpuni.
“Wisudawan dari Fakultas Syari’ah memiliki jumlah terbanyak di antara semua fakultas, mengalahkan fakultas lain yang secara jumlah mahasiswa mungkin lebih banyak. Ini sekaligus membuktikan bahwa kuliah dan lulus dari Fakultas Syariah itu mudah sekaligus berkualitas,” tuturnya.
Data ini juga membantah rumor yang menyebutkan bahwa kuliah di Fakultas Syari’ah itu rumit dan dosen sulit memberikan nilai. Berdasarkan data IPK tertinggi, prodi HKI meraih 3,92, HES 3,94, dan HTN mencapai 3,96.
“Angka ini nyaris sempurna 4,0, dan prestasinya merata. Ini membuktikan lulus di sini bisa dengan nilai tertinggi dan prestasi gemilang. Bahkan, sistem kita membuktikan mahasiswa bisa lulus cepat di semester 7,” imbuhnya.

Di hadapan para wisudawan, Dekan mengingatkan agar para lulusan tidak cepat berpuas diri dengan angka dan IPK.
“Kalau anda lulus tidak ditanya berapa IPK-nya, tapi seberapa besar kontribusi anda untuk kebaikan di masyarakat, bangsa dan negara ini pesannya.
Menutup sambutannya, Prof. Ilyya menekankan bahwa kunci kesuksesan bukanlah sekadar IQ tinggi, melainkan motivasi diri untuk terus maju dan menjadi pembelajar yang gigih.
“Orang yang berhasil dan bisa sukses itu bukanlah orang yang memiliki IQ tinggi, tetapi orang yang selalu memotivasi dirinya untuk terus maju di mana pun, kapan pun dan dalam keadaan apa pun,” pungkasnya.
Kontributor: Muntiatul Badiah (Tim Jurnalistik MCFS)



