Sampah di Sungai Menumpuk: Mahasiswa KKN Gema Karta Fakultas Syari’ah giat bersih-bersih lingkungan

Boyolali, (1 Agustus 2026)– Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah, termasuk di wilayah pedesaan. Kondisi tersebut mendorong Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Fakultas Syari’ah UIN Salatiga yang tergabung dalam Kelompok Gema Karta nomor SY1009 untuk menginisiasi gerakan bersih-bersih lingkungan di sejumlah titik sungai yang berada di Dukuh Cekelan, Desa Kauman, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, Sabtu (1/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan. Di sepanjang aliran sungai, tim KKN menemukan berbagai jenis sampah yang menumpuk dan mencemari lingkungan. Sampah yang ditemukan tidak hanya berupa sampah organik seperti dedaunan dan ranting, maupun sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kemasan makanan, tetapi juga limbah rumah tangga berukuran besar seperti kasur bekas, pakaian, karung, hingga berbagai barang yang sudah tidak layak pakai.

Tumpukan sampah tersebut tidak hanya mengganggu keindahan lingkungan, tetapi juga berpotensi menghambat aliran air serta menimbulkan berbagai persoalan kesehatan dan bencana lingkungan, terutama ketika musim hujan tiba.

Gerakan bersih sungai ini dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama telah berlangsung pada 25–26 Juli 2026 sebagai bentuk aksi awal pemulihan lingkungan di wilayah tersebut. Memasuki periode kedua pada Sabtu (1/8/2026), kegiatan kembali dilaksanakan dengan melibatkan mahasiswa KKN dari Kelompok Arutanika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Salatiga. Kolaborasi antarfakultas tersebut menjadi wujud nyata semangat gotong royong mahasiswa dalam mengatasi persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.

Meskipun demikian, partisipasi masyarakat dalam kegiatan tersebut masih tergolong sangat rendah. Di beberapa lokasi pembersihan bahkan tidak terdapat warga yang ikut bergabung bersama mahasiswa untuk membersihkan sungai. Kondisi ini menjadi salah satu catatan penting bagi tim KKN, mengingat keberhasilan menjaga kebersihan lingkungan tidak dapat hanya mengandalkan aksi mahasiswa yang bersifat sementara, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

Berdasarkan hasil pengamatan selama kegiatan berlangsung, tim KKN menilai bahwa tumpukan sampah tersebut berasal dari aktivitas masyarakat sekitar. Salah satu faktor utama yang menyebabkan kondisi tersebut adalah belum tersedianya Tempat Penampungan Sementara (TPS) sebagai sarana pembuangan sampah. Hingga saat ini masyarakat belum memiliki lokasi pembuangan sampah yang memadai, baik yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat maupun yang difasilitasi oleh pemerintah.

Pamungkas, salah satu mahasiswa KKN Fakultas Syari’ah UIN Salatiga, menilai bahwa persoalan sampah tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan perilaku masyarakat semata. Menurutnya, permasalahan tersebut juga berkaitan erat dengan belum optimalnya sistem pengelolaan sampah yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.

“Hal ini terjadi selain karena minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, juga merupakan bentuk dari kegagalan negara dalam mengatasi persoalan di Masyarakat. Hal yang paling mendasar seperti Tempat Pembuangan Sementara hampir tidak kami jumpai dalam satu kecamatan Wonosegoro. Ini menjadi pertanyaan serius kami terhadap penyelenggara negara, sampai kapan Masyarakat harus hidup di bawah bayang-bayang sampah yang demikian semrawut? Jika dibiarkan, ini akan menjadi bom waktu bagi generasi mendatang.” Ujarnya.

Menurutnya, edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan harus berjalan beriringan dengan penyediaan fasilitas pendukung. Tanpa adanya sarana pembuangan sampah yang memadai, masyarakat akan kesulitan mengubah kebiasaan membuang sampah secara sembarangan meskipun telah diberikan berbagai sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Di balik kegiatan bersih sungai tersebut, terdapat sebuah peristiwa yang cukup menggugah sekaligus menjadi refleksi terhadap persoalan pengelolaan sampah di Desa Kauman. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai dan mahasiswa bersiap meninggalkan lokasi, salah seorang warga menghampiri tim KKN dan bertanya mengenai kondisi sungai yang telah dibersihkan.

“Sudah bersih? Kalau sudah dibersihin, lalu buang sampah ke mana ya?”

Pertanyaan sederhana tersebut justru menggambarkan akar persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat. Di satu sisi, warga memahami bahwa membuang sampah ke sungai bukanlah tindakan yang benar. Namun di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak tersedia fasilitas pembuangan sampah yang dapat digunakan sebagai alternatif.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan sampah tidak cukup dilakukan melalui kegiatan bersih-bersih secara insidental. Diperlukan kebijakan yang berkelanjutan melalui penyediaan sarana pengelolaan sampah, penguatan sistem pengangkutan sampah, serta edukasi kepada masyarakat agar budaya menjaga kebersihan lingkungan dapat tumbuh secara kolektif.

Melalui gerakan ini, Mahasiswa KKN-PPM Fakultas Syari’ah UIN Salatiga berharap aksi yang dilakukan dapat menjadi pemantik kesadaran bersama bahwa sungai bukanlah tempat pembuangan sampah. Lebih dari itu, mahasiswa juga berharap pemerintah desa maupun pemerintah daerah dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pengelolaan sampah di wilayah pedesaan melalui penyediaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

“harapannya tentu sangat sederhana, pertama saya berharap masyarakat tidak lagi membuang sampah di sungai maupaun ditempat umum. Lebih lanjut, penyelenggara negara harus sesegera mungkin membangun TPS berikut dengan sistemnya, agar masyarakat tidak kebingungan lagi untuk membuang sampah.” Ujar Pamungkas

Gerakan bersih sungai yang diinisiasi Kelompok Gema Karta menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelaksana program KKN, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang berupaya mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Kontributor: Encep Bahru Jaman (Direktur MCFS)