Hadirkan Feri Amsari di PBAK 2026, Fasya UIN Salatiga Dorong Budaya Kritis Mahasiswa Baru

Salatiga, (19-20 Agustus 2026)—Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syari’ah UIN Salatiga selaku panitia Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 sukses menghadirkan Ahli Hukum Tata Negara nasional, Feri Amsari, sebagai narasumber utama dalam acara tersebut. Bertempat di Kampus 2 UIN Salatiga, kehadiran tokoh nasional tersebut dimaksudkan untuk membangun mentalitas kritis serta membentuk budaya hukum baru bagi para mahasiswa baru. 

Feri membawakan materi mengenai Putusan MK No. 90 yang dalam penjelasannya mengalami cacat struktur hukum karena memuat konflik kepentingan yang nyata dalam forum persidangan. Dirinya menyoroti relasi keterikatan antara hakim ketua, pemohon, termohon, hingga pihak yang diuntungkan dalam putusan pasal batas usia calon presiden dan wakil presiden tersebut. 

​“Satu forum persidangan berkaitan dengan Mas Gibran. pamannya, fans beratnya, partai pendukung ayahnya, ada partai adiknya (baca: PSI), ayahnya, wakilnya. Ini struktur hukum yang merusak, jelas merusak,” tegas Feri.

Selain mengkritisi produk hukum, Feri menekankan pentingnya peran mahasiswa Syari’ah UIN Salatiga dalam membentuk budaya hukum yang independen dan kritis melalui forum diskusi kampus. Dirinya berpesan agar keterbatasan lokasi geografis tidak membatasi daya saing intelektual mahasiswa dengan perguruan tinggi papan atas di Pulau Jawa. 

​“Tapi apa yang menyebabkan kita bisa bersaing dengan mereka dan mengalahkan mereka? Mindset! Lebih dari mindset itu adalah usaha dan kerja keras,” ungkapnya.

Ketua DEMA Fasya, Yusup Tauziri, menjelaskan bahwa penunjukan narasumber berskala nasional ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat paradigma berpikir kritis mahasiswa baru sejak awal perkuliahan. 

“Dan tentunya harapan yang kemudian kita ambil yaitu dengan diundangnya Feri Amsari untuk mengisi dan membersamai teman-teman di PBAK, tentunya kita ingin mengubah segi pemikiran dan juga paradigma kaitannya dengan hukum, terus paradigma kaitannya dengan bagaimana mahasiswa itu bisa berpikir kritis,” jelas Yusup.

Inisiatif panitia mendatangkan narasumber nasional tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Mahasiswa baru, Laila (bukan nama sebenarnya) menilai bahwa Feri Amsari berhasil memberikan dorongan mental bagi mahasiswa baru dalam mengasah pola pikir kritis selama menempuh pendidikan hukum.

“Kalau kita bertanya dengan malu-malu atau kita menjawab dengan berputar-putar, dia akan sarkas terus kita nyari pemikiran lain lebih kritis gitu,” tuturnya.

Kontributor: Encep Bahru Jaman dan Muntiatul Badiah