INGIN LULUS MENJADI HAKIM AGAMA: BEKALILAH DENGAN PENGUASAAN ILMU NAHWU SHARAF

Jakarta-Besar sekali manfaat yang diperoleh rombongan Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga pada kunjungan mereka di Mahkamah Agung (MA) yang termasuk salah satu lembaga tinggi negara Indonesia. Rabu, 25 April 2018 jam 09.30 sampai 13.00 WIB rombongan yang diterima oleh Hakim-hakim Yustisial pada Biro Hukum dan Humas MA-RI, Darmoko Yuti Witanto,SH., Abdur Rahman Rahim, S.H.I., M.H., Dr. Riki Perdana Raya Waruwu, SH., M.H. dan Dr. Ardi Julia Cakrawala, S.H.I., M.H. di ruang pertemuan Wiryono Mahkamah Agung.

Kunjungan tersebut diawali dengan perkenalan dan dilanjutkan sambutan dari Dekan Fakultas Syari’ah Dr. Siti Zumrotun, M.Ag. yang menyampaikan target dan sasaran kunjungan rombongan di MA seperti berikut:

1. Mahasiswa melihat dan memahami dari dekat profil lembaga MA RI.

2. Mahasiswa memahami tata cara untuk menjadi pegawai, pimpinan dan majelis hakim MA RI.

3. Mahasiswa memahami kedudukan MA RI dalam sistem tata negara Indonesia.

4. Mahasiswa memahami kode etik MA RI.

5. Mahasiswa memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi) MA.

6. Mahasiswa memahami dasar pertimbangan yuridis maupun non-yuridis yang digunakan dalam proses putusan kasasi.

7. Mahasiswa memahami mekanisme pengawasan hakim-hakim oleh MA.

8. Mahasiswa memahami kendala-kendala yang dihadapi oleh MA RI dalam membina hakim dan membersihkan mafia peradilan.

9. Mahasiswa mengetahui peran MA dalam memberantas mafia peradilan.

10. Mahasiswa mengetahui peluang-peluang kerjasama yang dapat dilakukan antara MA RI dengan IAIN Salatiga khususnya Jurusan Hukum Keluarga Islam (Ahwal al-Syakhshiyyah) dan Hukum Ekonomi Syari’ah Fakultas Syariah.

Kemudian sambutan dilanjutkan dari pihak MA yang secara langsung menanggapi satu persatu dengan jelas target tujuan kunjungan rombongan ke MA. Dari beberapa tanggapan, ada yang begitu menarik dan penting untuk diketahui mahasiswa dan seluruh masyarakat indonesia yaitu pada jawaban point ke-2 dari target kunjungan, karena Abdur Rahman memberikan kisi-kisi bagaimana para mahasiswa bisa menjadi Hakim Agama Republik Indonesia.

“Pengetahuan umum dan kompetisi dasar menjadi syarat mutlak melewati ujian pertama, kemudian apabila lulus dalam tahap tersebut maka melanjutkan pada ujian wawancara dan dimana pada saat itu keilmuan nahwu sharaf diuji untuk mengetahui penguasaan kitab kuning (kitab arab tanpa harakat), dan menjadi nilai plus apabila calon hakim agama memiliki kompetensi tersebut” tuturnya.

Pada penutup kunjungan, ada foto bersama dan penyerahan kenang-kenangan kunjungan dari fakultas syariah untuk Mahkamah Agung Republik Indonesia. (Hijri/Syari’ah)

MAHASISWA HUKUM IAIN SALATIGA PERTANYAKAN PERMA No. 3 Tahun 2018 ke Mahkamah Agung

Jakarta, Rabu 25 April 2018 – Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga berkunjung ke Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Rombongan Fakultas Syariah di sambut oleh Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung di Gedung Pertemuan Mahkamah Agung Jakarta Pusat, Rabu (25/04/2018).

Kegiatan tersebut diikuti 149 mahasiswa yang terdiri dari jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI), Hukum Ekonomi Syariah (HES) dan Hukum Tata Negara (HTN), yang mengikuti rangkaian acara dengan antusias.

Dalam sambutannya Dekan Fakultas Syariah Dr. Siti Zumrotun, M.Ag. menyampaikan, kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa secara praktis yang bersifat informatif maupun komparatif tentang  Mahkamah Agung, memahami tata cara menjadi pegawai, pimpinan dan majelis hakim MA RI, serta mengetahui peluang-peluang kerjasama yang dapat dilakukan antara MA RI dengan IAIN Salatiga khususnya Jurusan Hukum Keluarga Islam dan Hukum Ekonomi Syariah.

Acara tersebut salah satu peserta, M Choiruzzadi mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam, menanyakan kejelasan mengenai Perma No. 3 Tahun 2018 Tentang Administrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik.

Hakim Yustisial Biro Hukum dan Humas Witanto menanggapi, perma tersebut merupakan upaya Mahkamah Agung dalam merespons aspirasi masyarakat terkait modernisasi penyelenggaraan peradilan.

“Perma tersebut berbasis komputer yang mengikuti perkembangan jaman bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih hemat biaya dan dapat dijangkau dengan waktu yang cepat,” ujar Sutanto menanggapi pertanyaan Choiruzzadi, Rabu (25/4/2018).

Ia menjelaskan, perma tersebut akan memberikan kemudahan bagi siapa pun untuk mengajukan tuntutan hak, baik gugatan maupun permohonan tanpa harus datang langsung ke pengadilan. (Budiyono/Syari’ah)

KARISMATIK TEKNOLOGI PENENTU WAKTU KINI HADIR DI FAKULTAS SYARI’AH IAIN SALATIGA

Salatiga-Sebelum dunia ini mengenal berbagai jam analog maupun digital, sudah jauh dahulu umat islam mengenal teknologi sederhana dalam menandai masuk dan berakhirnya waktu ibadah shalat.

Teknologi sederhana tersebut dikenal dengan beragam nama seperti jam bencet, jam matahari dan jam istiwak. Jam bencet dipasang melalui proses menunggu waktu istiwak yang bisa dilakukan dijam 09.00 atau jam 12.00 dan jam 15.00 tutur KH. Syeh Misbachul Munir Al Falakiy, ahli falak indonesia.

Beliau juga menuturkan bahwa “Jam bencet ini kerjanya untuk menunjukan waktu dengan mengetahui posisi Matahari dan ini sudah dipakai sejak jaman kuno”.

Merasa begitu pentingnya alat tersebut untuk mengenal sejarah dan menambah ilmu akademika, Fakultas Syari’ah yang diprakarsai oleh Ikatan Alumni Fakultas Syari’ah (IKAFASA) tahun 2018 memberikan kenangan-kenangan jam bencet yang sudah bisa dilihat terpasang halaman selatan Masjid Kampus 2 IAIN Salatiga, Senin 23 April 2018.

Senada dengan hal tersebut Dekan Fakultas Syariah IAIN Salatiga Dr. Siti Zumrotun, M.Ag menyampaikam pemasangan jam bencet selain untuk menunjang kegiatan akademik, pemasangan jam bencet juga sebagai momentum memompa kembali semangat jiwa pembelajaran Ilmu Falak di IAIN Salatiga yang sebelumnya telah dirintis oleh KH.Zubair Umar Al-Jailani Ahli Falak sekaligus Pendiri IAIN Salatiga.

Bagi mereka alumni Fakultas Syariah juga merasa bangga bisa memberikan kenang-kenangan yang bisa memberikan manfaat dari banyak arah. (Hijri/Syari’ah)

MENENGOK PELUANG, TANTANGAN DAN KREATIFITAS PENINGKATAN KINERJA ORGANISASI MAHASISWA

  • Salatiga- Peningkatan kinerja, program kerja dan kreatifitas organisasi mahasiswa pada era modern saat ini lebih banyak dibungkus dengan Studi Banding pada lembaga lainnya. Kegiatan tersebut dijalankan oleh

23 Mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang melakukan kunjungan belajar berorganisasi pada hari Senin, 23 April 2018 di salah satu Perguruan Tinggi Islam Negeri yang ada di Salatiga, yaitu Institut Agama Islam Negeri Salatiga.

 

Mereka yang berkunjung tergabung dalam anggota organisasi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam (HMJ HKI), dan disambut hangat oleh Bapak Sukron Ma’mun, S.Hi., M.Si selaku Kepala Jurusan Hukum Keluarga Islam IAIN Salatiga dan Ibu Dr. Siti Zumrotun, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga.

 

Dalam kegiatan itu, HMJ Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddun Jambi dengan HMJ Hukum Keluarga Islam IAIN Salatiga saling bertukar pikiran mengenai  apa saja yang dilakukan di masing-masing HMJ HKI di Perguruan Tingginya.

 

Disamping tujuan mereka untuk saling bertukar pikiran, kunjungan tersebut sekaligus untuk menyambung silaturahmi antar sesama Perguruan Tinggi dibidang Hukum Keluarga Islam.

 

Dalam pembahasan kemarin, Khasan Alimuddin selaku ketua HMJ IAIN Salatiga menyampaikan, “Selain sebagai mahasiswa yang berkecimpung dibidang akademik, kita sebagai mahasiswa sarjana hukum memiliki peran yang lebih utama yaitu bagaimana kita dapat menerapkan hukum dimasyarakat”. Paparan Khasan Alimuddin tersebut diterima dengan baik oleh Anggota HMJ HKI UIN STS Jambi.

 

Ketua pantia dari HMJ HKI UIN STS Jambi juga menyampaikan bahwasannya, mereka sangat senang karena dapat berkunjung di IAIN Salatiga. Selain itu, mereka juga berinisiatif untuk menerapkan segala sisi positif yang dimiliki HMJ HKI IAIN Salatiga dikampus mereka. Begitu juga yang dilakukan oleh HMJ HKI IAIN Salatiga mereka mengambil sisi postif yang dimiliki oleh HMJ Hukum Keluarga Islam UIN STS Jambi untuk di terapkan dalam sistem kepengurusanya.

 

Melalui kesempatan itu, HMJ HKI UIN STS Jambi dan HMJ HKI IAIN Salatiga berharap hasil dari kunjungan tersebut dapat bermanfaat dan dapat diterapkan bagi masing-masing organisasi tersebut. (Khasan/Syari’ah)

Gelar Sarjana Merupakan Tanggung Jawab Besar dan Penuh Amanah

Salatiga-Fakultas Syraiah IAIN Salatiga pada hari senin 23 April 2018 mengadakan pelepasan wisuda periode VII tahun akademik 2017/2018 yang bertempat di Aula Fakultas Syraiah IAIN Salatiga yang dimulai dari pukul 08.30 WIB. Pelepasan wisuda ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Syariah, Para wakil dekan, ketua jurusan dan sekretaris Jurusan di Fakultas Syariah IAIN Salatiga, dosen dan para tamu undangan.

Fakultas Syariah IAIN Salatiga pada acara pelepasan wisuda VII kali ini mewisuda  32 mahasiswa. Ke 32  Mahasiwa tersebut adalah, sebanyak 21 Mahasiswa dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) dan sebanyak 11 Mahasiswa dari Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES).

Acara pelepasan wisuda VII berlangsung dengan khidmat yang dimulai dengan pembacaan kalam Illahi yang dibacakan oleh Lia Wardah Nadhifah S.H yang merupakan wisudawan dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI). Pada acara pelepasan wisuda kali ini Dekan Fakultas Syariah IAIN Salatiga Dr. Situ Zumrotun, MAg menyerahkan kenang-kenangan berupa plakat wisuda kepada perwakilan wisudawan dan sekaligus penyerahan hibah dari alumni ke fakultas Syariah IAIN Salatiga berupa jam matahari.

[wds id=”11″]

Zulfa Hudaya SH dalam sambutannya yang mewakili wisudawan Hukum Keluarga Islam (HKI) menyampaikan perlunya rasa cinta terhadap instutusi sebagai bentuk pengabdian nayata terhadap kemajuan kampus tercinta fakultas Syari’ah IAIN Salatiga. Sementara itu Muhammad Ro’isun Ni’am yang mewakili wisudawan Hukum Ekonomi Syari’ah (HES) menekankan pentingnya usaha yang nayata dalam mengamalkan ilmu yang didapat ditengah-tengah kehidupan masayarakat nantinya, menurutnya gelar sarjana yang diperoleh merupakan tanggung jawab yang besar dan penuh amanah dalam mengembannya.

Disamping melakukan pelepasan wisudawan oleh dekan Fakultas Syariah IAIN Salatiga, Para wisudawan juga dibekali dengan berbagai pengalaman advokats yang disampaikan oleh Bapak Nurun Jamaluddin, SH, MH.I dengan harapan para wisudawan Fakultas Syariah IAIN Salatiga dapat berperan aktif di tengah-tengah masyarakat terutama dalam hal advokasi.

Sementara itu Dekan Fakultas Syariah IAIN Salatiag Dr. Siti Zumrotun, MA.g dalam sambutannya berpesan kepada para wisudawan untuk tetap berkarya dalam mengarungi kehidupan ini “berjalan terus untuk melukis awan dan meraih bintang” tutur dekan, tidak lupa pula menyematkan doa yang terbaik bagi para wisudawan supaya kelak sukses dalam mengarungi kehidupan di dunia dan akhirat.

Dekan fakultas Syariah menjelaskan bahwa pasca kelulusan ini sudah saatnya untuk beramal dan berprestasi “A’maluu Fauqo ma ‘amiluu” (berbuatlah lebih baik dari yang mereka lakukan) sungguh-sungguh dalam bekerja, berfikir, sabar dan tawakkal. Di akhir sambutannya ibu dekan kembali menegaskan bahwa bekal hidup itu bukan hanya ilmu tapi akhlak dan moral juga tidak kalah pentingnya sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan ini. (AliGeno/Syari’ah)

Gerakan Nyata Penanggulangan Kekerasan di Masyarakat

Salatiga-Perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap tindak kekerasan. Setiap tahunnya berbagai kasus yang dialami perempuan dan anak sebagai korban, berkembang secara signifikan dan mendesak untuk dituntaskan. Mulai dari kasus kekerasan, trafficking, pelecehan seksual, eksploitasi anak dan perempuan, hingga kasus anak berhadapan dengan hukum. Masing-masing kasus membutuhkan perhatian khusus agar penanganan yang diberikan pun tepat sasaran.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Salatiga menggelar Seminar Internasional bertajuk “Self & Family Protection (Practical Methodological Review)” dengan nara sumber Dr. Katharina Werner (Universitas Passau-German), Dr. Ir. Arianti Ina R. Hunga, M.Si. (Secretary of ASGWU/ Indonesian Association of Gender and Women Studies) dan Dr. Siti Zumrotun, M.Ag. (Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga/ Pioneer of Gender Studies), berlangsung Kamis 18 April 2018di Gedung FTIK IAIN Salatiga.

[wds id=”10″]

Dalam seminar tersebut Dekan Fakultas Syari’ah menyampaikan tulisan dari Ibda’ binafsik “persoalan perkosaan, pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan tidak hanya bisa diselesaikan melalui kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Dia harus dimulai dengan perubahan paradigma masyarakat dalam melihat bagaimana posisi perempuan, baik terhadap laki-laki, terhadap masyarakat, maupun terhadap negara. Budaya kita yang harus diubah, dan semua itu bisa dilakukan mulai dari diri kita sendiri”.

Lanjutnya beliau menyampaikan materi ttg OSSOS/F (Student Save One Student/Family) dalam perspektif Islam. OSSOS/F merupakan program yang diinisiasi oleh kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang kemudian menjadikan kota salatiga sebagai pilot project dengan bekerjasama dengan dua perguruan tinggi yang ada di dalamnya yakni IAIN Salatiga dan UKSW.

OSSOS/F merupakan aksi nyata dalam menanggulangi permasalahan yang ada di kalangan mahasiswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Ketika selama ini kita mengadakan berbagai seminar, workshop dan penelitian tentang bagaimana mengubah paradigma masyarakat tentang kekerasan terhadap gender dan anak maka dengan adanya OSSOS/F ini merupakan wujud nyata sebagai bentuk implementasi di tengah-tengah masyarakat. Jiwa OSSOS/F ini sejalan dengan tuntunan dalam Islam yang tercantum dalam surat Al Maidah ayat 2 yakni saling tolong menolong disamping itu agama kita juga telah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Tentang kepada siapa kita menolong, islam mengajarkan ada 3 tingkatan persaudaraan yakni ukhwah islamiyah, ukhwah wathaniyah dan ukhwah basyariyah, dari ketiga hal tersebut yang paling tinggi tingkatannya adalah ukhwah basyariyah artinya setelah menapaki ukhwah islamiyah dan ukhwah wathaniyah sudah seharusnya seseorang menggapai tingkatan ukhwah yang lebih tinggi, lebih mendalam dan lebih mendasar yakni ukhwah basyariyah, imbuhnya. (Hijri/ADM Syari’ah)

FAKULTAS SYARIAH BERHASIL MERAIH JUARA UMUM

Salatiga- Ucapan selamat disampaikan langsung oleh Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga pada rapat Fakultas, atas kekompakan segenap dosen, karyawan dan mahasiswa syari’ah yang telah berhasil meraih gelar juara umum pertandingan olahraga dan lomba dalam rangka perayaan Dies Natalis IAIN Salatiga ke 48.

[wds id=”9″]

Acara yang digelar pada hari Sabtu, 14 April 2018 di Kampus 3 IAIN Salatiga, diawali dengan kegiatan jalan sehat ( start dan finish halaman kampus 3 bergerak mengelilingi kelurahan pulutan). Kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertandingan olahraga dan lomba anatar sivitas akademika yang berlangsung meriah dengan sorak sorak peserta dan pendukungnya.

Kemeriahan semakin bertambah ketika acara IAIN Mencari Bakat (IMB) yang menampilkan peserta dengan bakat menyanyi, bermain alat musik, bela diri, membaca pusi dan lainnya. Karaoke bersama juga menjadi acara favorit dengan penonton yang sangat antusias mengikutinya dengan tawa sorak mereka.

Lebih lanjut Dosen Bahasa Arab Fakultas Ushuludin berpendapat bahwa “tujuan utama diadakannya kegiatan ini diharapkan mampu merekatkan tali silaturahmi antar dosen, karyawan dan mahasiswa serta seluruh keluraga besar IAIN Salatiga”.

Pembagian hadiah kepada pemenang dan doorprize untuk peserta jalan sehat menjadi penutup rangkaian acara hari tersebut. (Hijri/ADM Syari’ah)

FAKULTAS SYARIAH SAMBUT BULAN RAMADHAN 1439H/2018M DENGAN LOKAKARYA IMSAKIYAH

Salatiga, syariah.iainsalatiga.com-Lokakarya Imsakiyah menjadi bentuk kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Pada hari Rabu, (21/03/2018) di Auditorium Kampus II Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga, mendatangkan narasumber ahli ilmu falak yaitu: Prof. Dr. H. Zuhri, M.A. (Guru besar dan ahli falak IAIN Salatiga), Drs. KH. Slamet Hambali, M. S.I. (Ahli falak UIN Walisongo), Drs. Mutoha Arkanuddin, M. Pd. (Ketua ru’yatul hilal inddonesia). Serta dalam acara tersebut di moderatori oleh Yusuf Khumaini S.H.I.,M.H. (Dosen Ilmu Falak IAIN Salatiga).

Dr. Agus Waluyo, S.Ag. (Wakil Rektor I IAIN Salatiga) memberikan sambutan bahwa “Kegiatan ini di selenggarakan untuk memberikan inisiasi dan motivasi bagi semua untuk menentukan kapan satu Ramadhan itu tiba.

Dekan Fakultas Syari’ah (Dr. Siti Zumrotun, M.Ag.) juga menyampaikan dalam sambutannya “Lokakarya Imsakiyah adalah sebuah bentuk kegiatan dari pengabdian ilmiah yang akan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai informasi penentuan awal bulan ramadhan”.

[wds id=”8″]

KH. Slamet Hambali, M. S.I. memberikan beberapa kesimpulan narasinya:

  1. Ijtima’ akhir Syakban 1439 H terjadi hari Selasa Kliwon, 15 Mei 2018 M pk. 18:50:28 WIB (pk. 18:50:28 GMT)
  2. Matahari terbenam dari menara Al-Husna MAJT terjadi pk. 17:30 WIB
  3. Mengingat hari Selasa Kliwon, 29 Syakban 1439 H/15 Mei 2018 M pada saat matahari terbenam belum terjadi ijtima’ /konjungsi dan bulan masih di bawah ufuk, maka bulan syakban diistikmalkan menjadi 30 hari, yaitu pada hari berikutnya Rabu Legi, 16 Mei 2018 M adalah tanggal 30 Syakban 1439 H
  4. 1 Ramadhan 1439 H akan jatuh hari Kamis Pahing, 17 Mei 2018 M. Walaupun demikian kita tetap menunggu keputusan Pemerintah RI melalui sidang Isbat yang akan dilaksanakan pada hari Selasa Kliwon, 15 Mei 2018 M setelah shalat maghrib.

Acara yang berlangsung hikmat dari pagi sampai siang hari dihadiri juga dari undangan-undangan instansi pemerintah, takmir masjid, ormas dan para mahasiswa syariah pula. Sesi dibukanya pertanyaan menambah semangatnya peserta lokakarya dalam bertabayun mendapatkan informasi serta ilmu yang disampaikan tiga narasumber tersebut di atas. (Hijri/ADM Syari’ah)

Amanah Besar SEMA, DEMA, HMJ Fakultas Syariah Periode 2018-2019

Salatiga, multisite.uinsalatiga.ac.id – Dekan fakultas Syari’ah, Dr. Siti Zumrotun, M.Ag resmi melantik pengurus baru Senat Mahasiswa (Sema), Dewan Mahasiswa (Dema) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Syari’ah, periode 2018/2019 dengan mengusung tema ‘Meneguhkan Identitas Mahasiswa Sebagai Agent of Change‘. Pelantikan tersebut berlangsung hikmat di Aula lantai tiga gedunng sekretariat Fakultas Syariah pada Rabu (7/3).

Pelantikan juga dihadiri oleh Wakil Dekan I: Dr. Irfan Hilmi, Wakil Dekan II: Muhammad Hafid, Wakil Dekan III: Dr Ilya Muhsin dan ketua program studi.

[wds id=”7″]

Nomor surat pelantikan sebagai berikut:

Sema: B-0197/In.21/D2/KM.01.3/03/2018
DEMA: B-0198/In.21/D2/KM.01.3/03/2018
HMJ HTN: B-0199/In.21/D2/KM.01.3/03/2018
HMJ HKI: B-0200/In.21/D2/KM.01.3/3/2018
HMJ Hes: B-0201/In.21/D2/KM.01.3/03/2018

Dalam sambutannya Dekan Fakultas Syari’ah “Mahasiswa yang masuk dalam kepengurusan Dema, Sema dan HMJ adalah sebagai orang-orang pilihan, maka sejak dinilah harus berlaku disiplin, adil dan bermartabat.

“Saya berpesan kepada pengurus yang baru agar dalam program-program kedepannya lebih baik lagi dan kreatif dari sebelumnya”, tutupnya.

(Hijri/ADM Syari’ah)

H. Mochamad Arifin (Wakil Bupati Trenggalek): “Parpol Gagal Melakukan Kaderisasi”

SALATIGA – Plt Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menyebut banyak partai politik (parpol) gagal melakukan kaderisasi. Hal ini diutarakan dalam kuliah umum Prodi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah Isntitut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, di Auditorium Kampus II IAIN Salatiga, Senin (26/2/2018) siang.

[wds id=”6″]

“Salah satu indikasinya banyak parpol tidak mencalonkan kadernya sendiri saat pemilu,” ujar dia di hadapan peserta kuliah umum Prodi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah dengan mengambil tema ‘Kegagalan Kaderisasi Partai Politik: Langkah Antisipasi dan Solusinya’.

Selain itu munculnya calon tunggal di beberapa wilayah yang menyelenggarakan pilkada. Hal ini menjadi indikasi ketidakmampuan parpol menyiapkan kader guna mampu bersaing dalam kancah pemilihan umum. “Tidak mampu menyiapkan kader berarti tidak ada kerja politik, maka mesin politik-pun tidak bekerja,” ungkap dia.

Arifin mengungkapkan politik saat ini hanya terfokus pada kegiatan pemilihan lima tahunan dalam rangka perebutan kekuasaan. Dalam perebutan kursi kekuasaan tidak diimbangi perkuat kaderisasi. Alhasil justru tidak menyiapkan kader secara maksimal.

Kendati demikian, lanjut dia, masih ada parpol yang menyiapkan kader secara serius, misalnya melalui sekolah atau pelatihan. “Tantangan ke depan karena saat ini memakai sistem pemilihan langsung maka yang terpilih punya utang kepada rakyat,” papar dia.

Kondisi tersebut berdampak pada tingginya biaya politik sehingga terkadang memunculkan pemakluman sebagian pejabat yang mengangap korupsi tak mengapa asalkan untuk kepentingan masyarakat. “(Pemikiran) ini sangat disayangkan. Karenanya selagi masih muda, masih mahasiswa lakukan kerja sosial sebagai modal sosial jika ke depan ingin menjadi kepala daerah atau berkecimpung didunia politik,” kata dia.

Terpisah, Dekan Fakultas Syariah IAIN Salatiga Dr. Siti Zumrotun, M.Ag. berharap para mahasiswa bisa mengambil pelajaran dari Plt Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin yang telah menjabat wakil bupati pada usia 25 tahun. ”Meski masih muda semangatnya patut ditiru untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Trenggalek. Apalagi mahasiswa adalah kader penerus dalam memperjuangkan organisasi dan parpol ke depan,” terang dia.

Ibu dekan menambahkan kegagalan parpol dalam melakukan kaderisasi yakni banyaknya kader yang keluar atau pindah parpol. Fenomena ini tidak saja terjadi di tingkat pusat tetapi juga di tingkat bawah, seperti kecamatan. “Tidak hanya pindah tapi juga mendirikan parpol baru,” ungkap dia. (Zidni/Humas IAIN Salatiga)