Tingkatkan Mutu Profesi Advokat APSI Jateng Gandeng Fakultas Syari’ah IAIN salatiga

 

 

 

 

 

 

 

Dalam rangka mendorong serta meningkatkan kualitas advokat, Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) Jawa Tengah dengan menggandeng Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga akan mengadakan pendidikan dan pelatihan profesi advokat, pada tanggal 24.25.26 Agustus dan tanggal 01.02 September 2018 mendatang, di Fakultas Syariah IAIN Salatiga.

Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menindaklanjuti putusan MK Nomor 95/PUU-XIV/2016 yang menyebutkan jika pendidikan advokat harus dilaksanakan oleh organisasi advokat dengan menggandeng perguruan tinggi.

Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Salatiga Dr.Siti Zumrotun, M.Ag menuturkan kegiatan semacam ini dirasa penting untuk meningkatkan kualitas alumni dan masyarakat umum dalam memahami keilmuan hukum secara mendalam.

Menurut panitia pelaksana melalui Nurrun Jamaludin, S.H.I.,M.H.I mengatakan acara tersebut akan menghadirkan pemateri yang profesional dalam bidangnya, sehingga nanti menghasilkan lulusan yang hebat dan bermartabat.

Lebih lanjut, Jamal berharap kepada sarjana hukum (S.H), Sarjana Syariah (S.sy) dan Sarjana Hukum Islam (S.H.I) yang mempunyai keinginan untuk menegakan hukum di Indonesia lewat profesi advokat bisa mengikuti PPPA tersebut.

Jamal menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan salah satu bentuk dukungan terhadap Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan pengujian Pasal 2 ayat (1) UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat terkait penyelenggaraan pendidikan khusus profesi pengacara (PPPA). Pasal 2 ayat (1) UU Advokat dinyatakan inkonstitusional bersyarat sepanjang dimaknai yang berhak menyelenggarakan PPPA adalah organisasi advokat dengan keharusan bekerja sama dengan perguruan.

Seperti disebutkan Mahkamah dalam pertimbangannya, Pelaksanaan PPPA harus memiliki standar mutu dan target capaian tingkat keahlian/keterampilan tertentu dalam kurikulum PPPA. Kaitan ini kerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki program studi ilmu hukum atau sekolah tinggi hukum menjadi penting. Sebab, berbicara pendidikan, terminologi yang melekat dalam PPPA, secara implisit harus memenuhi kualifikasi pedagogi yang lazim dituangkan dalam kurikulum.

“Keharusan tersebut didasarkan argumentasi bahwa standardisasi pendidikan termasuk pendidikan profesi advokat akan terjaga kualitasnya seperti dikehendaki Pasal 28 UU Advokat dan sejalan dengan semangat Pasal 31 UUD 1945,” kata Jamal seperti disebutkan Mahkamah dalam pertimbangannya beberapa waktu lalu.

Penegasan maksud dan tujuan ini telah pula ditegaskan dalam Putusan MK No. 066/PUU-II/2004. Hal ini menjadi pembeda antara profesi Advokat dengan profesi lain seperti didalilkan Pemohon yang berpandangan bahwa seharusnya PPPA adalah pendidikan yang masuk kategori pendidikan formal yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

“Karena itu, organisasi advokat tetap sebagai penyelenggara PPPA dengan keharusan bekerja sama dengan perguruan tinggi yang fakultas hukumnya minimal terakreditasi B atau sekolah tinggi hukum yang minimal terakreditasi B,” terang jamal.

Arijal wahyu isnanto

PRAKTIKUM PENGEMBANGAN PROFESI (Praktikum Peradilan) Di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Salatiga Tahun 2016

sidang Semu PA

sidang semu PN

Dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan serta keterampilan keahlian praktek tanpa menghilangkan teoritik, IAIN Salatiga khususnya jurusan Hukum Perdata Islam atau Ahwal Al-Syakhsyiyyah (AS) memberikan mata kuliah praktikum peradilan kepada mahasiswa dan memberi kesempatan untuk melakukan praktikum pengembangan profesi ini di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama. Pelakasanaan praktek ini ditujukan agar mahasiswa bisa mengaplikasikan teori-teori yang sudah dipelajari dalam perkuliahan di lapangan kerja.

Praktek Peradilan ini dilaksanakan pada tanggal 22 juli 2016 sampai tanggal 19 agustus 2016. Mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok dalam kegiatan pengembangan profesi ini. satu kelompok berada di Pengadilan Agama (PA) selama dua minggu dan satu kelompok berada di Pengadilan Negeri (PN) selama dua minggu. kemudian satu kelompok yang tadinya di PA pindah ke PN begitu sebaliknya selama dua minggu juga.

Kegiatan ini di laksanakan pada setiap semester VII dan tidak lebih dari empat minggu. Pada kegiatan tersebut, mahasiswa melakukan observasi mengenai sistem administrasi Pengadilan seperti struktur organisasi Pengadilan, prosedur berperkara, administrasi penanganan perkara secara kronologis dari pendaftaran hingga sampai eksekusi putusan. Kemudian pada hari-hari terakhir kegiatan ini, mahasiswa melakukan praktek pengadilan semu atau tiruan di PA dan PN tersebut agar mahasiswa mendapat pengalaman untuk bisa mengadili dan memutus perkara seperti dalam persidangan yang sebenarnya.

Kegiatan ini diharapkan mampu menujang kemampuan mahasiswa yang telah mendapatkan teori-teori dalam perkuliahan dan mengaplikasinya di masyarakat sesuai dengan Hukum Islam dan Undang-Undang yang berlaku.

 

OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan) FAKULTAS SYARI’AH TAHUN 2016

khtaman al quran

opak 1

opak -1

Opak Fakultas Syariah dilaksanakan pada senin 22 agustus 2016 sampai dengan selasa 23 agustus 2016. Dengan tema “Membangun Integritas Mahasiswa Fakultas Syari’ah Sebagai Bekal Menjadi Ilmuan Dan  Praktisi Hukum Yang Religius Dan Profesional”. Peserta opak fakultas syariah secara global berjumlah 262 peserta, untuk prodi Ahwa-Al-Syakhsyiyyah (AS) 62 mahasiswa, Hukum Ekonomi Syari’ah (HES) 98 mahasiswa dan Hukum Tata Negara (HTN) 67 mahasiswa dan di tambah dengan mahasiswa lama berjumlah 32 mahasiswa.

Pada pagi tadi pukul 07.30 acara checking peserta dilakukaan di depan Akademik Fakultas Syari’ah. Setelah itu kemudian peserta opak melakukan jabat tangan dengan para dosen dan karyawan fakultas syari’ah sebelum masuk ke aula fakultas syari’ah untuk mengikuti acara pembukaan opak.

Setelah itu acara opak di buka langsung oleh dekan fakultas syari’ah

 

Pengumuman Beasiswa Tahfidz Kemenag RI Th. 2015

cropped-cropped-syariah.pngKepada

Yth. Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Salatiga

di Salatiga

Assalamu’alaikum w. w.

Bersama ini kami sampaikan bahwa Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kemenag RI. memberikan kesempatan bagi mahasisa hafidz al-Qur’an untuk mendapatkan bantuan beasiswa mahasiswa berprestasi (hafal al-Qur’an). Sehubungan dengan itu Fakultas Syariah akan menyelenggarakan seleksi penerima mahasiswa tersebut untuk selanjutnya diusulkan ke Direktorat Diktis Kemenag RI.

Hal-hal teknis berkenaan dengan pengajuan beasiswa dimaksud dapat diunduh pada lampiran pengumuman ini.(lampiran TAHFIDZ KEMENAG)
Demikian atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.

Wassalamu’alaikum w. w.

an. Dekan Fakultas Syariah

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan

dan Kerjasama

ttd.

Ilyya Muhsin,S.H.I.,M.Si.

MEMAHAMI MAKNA DAN DASAR SYARIAH

syariah MEMAHAMI MAKNA DAN DASAR SYARIAH
بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله ، وعلى آله ومن ولاه

Mempelajari ilmu syari’ah adalah wajib karena sebagai orang muslim bagaimana kita mau mengerjakan ibadah bila tidak didasari dengan ilmu syari’ah. Kita sering mendengar maqolah bahwah “al amalu bila ilmin amaluhu mardudadun la yuqbalu “ amal yang dikerjakan tanpa ilmu maka amalnya akan ditolak dan tidak diterimah. bersama Dr Yusuf al-Qardhawi yang bertemakan “Syariah: Makna dan Dasarnya,”, dalam chanel al-Jazeera.

1. Ta’rif syari’ah:

ما شرعه الله لعباده من الأحكام

“Segala perkara yang Allah syariatkan kepada hambaNya, daripada hukum hakam.”

Ada di antaranya suruhan dan ada pula larangan. Ada di antaranya yang berkaitan dengan ( كيفية العمل ) ‘cara beramal’ dan dinamakan sebagai ( فرعية وعملية ) ‘cabang dan amalan.’ Ilmu yang berkaitan dengannya dinamakan sebagai ilmu fiqh, syariah dan hukum. Dan ada pula yang berkaitan dengan ( أصل العمل ) ‘dasar amalan’ dan dinamakan sebagai ( أصلية واعتقادية ) ‘usul dan pegangan.’ Ilmu yang berkiatan dengannya dinamakan sebagai ilmu kalam, tauhid atau aqidah

2. Syari’ah dan agama:

Jika berdasarkan ta’rif di atas, syariah itu sendiri adalah agama.

Namun sebahagian ulama membezakan antara penggunaan kalimah syariah kepada maksud yang lebih khusus, iaitulah hukum hakam fiqh.Sebagaimana di al-Azhar dinamakan kuliah yang menumpukan pengajian fiqh sebagai kuliah syariah, dan kuliah yang mengaji akidah dinamakan kuliah usuluddin. Syeikh Mahmud Syaltut, Syeikuhul Azhar pernah mengarang sebuah kitab bertajuk “Islam itu Aqidah dan Syariah.”

3. Kenapa Allah turunkan Syariah?

Firman Allah taala:

لقد أنزلنا رسلنا بالبينات وأنزلنا معهم الكتاب والميزان ليقوم الناس بالقسط
كتاب أنزلناه إليك لتخرج الناس من الظلمات إلى النور

Allah taala maha kaya daripada hambaNya, Dia tidak berhajat kepada sesuatu daripada hambaNya. Di dalam ayat pertama disebut: “Agar manusia menegakkan keadilan,” ayat kedua “Mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.”

Secara ringkasnya, syariah adalah:

كل ما يهدى الناس في الحياة إلى الطريق القويم والتوازن

Setiap perkara yang menyusun kehidupan dan memandu kepada jalan yang lurus dan sistematik, itulah tugasan syariah, agar mereka mendapat kebaikan di dunia, dan di akhirat.

4. Sumber-sumber syariah:

Syariah diambil daripada dalil-dali syarak. Terdapat dua jenis dalil: pertama dalil yang disepakati. Iaitulah al-Quran yang merupakan sumber yang paling utama, kemudian sunnah, ijmak dan qias. Jenis yang kedua pula dalil yang terdapat perselisihan antara ulama seperti amalan umat terdahulu, masaleh mursalah, istihsan, uruf, istishab dan sebagainya (rujuk kitab-kitab usul fiqh) Semua sumber-sumber ini sudah memadai bagi menyelesaikan setiap permasalahan manusia.

5. Apakah perkara yang ( الثابت ) ‘tetap.”?

Perkara yang ( الثابت ) ‘tetap’ dan tidak akan berubah adalah yang berkaitan dengan akidah, ibadah yang asas, akhlak-akhlak yang utama, nilai murni dan perkara (الرذائل ) ‘yang dipandang keji’, halal dan haram, perkara-perkara yang dasar yang berkaitan dengan individu, mencari pekerjaan halal, berpakaian menutup aurat, makanan halal, hubungan antara suami isteri, kaum kerabat, hak-hak asas masyarakat, pemerintah, rakyat dan sebagainya. (Yakni perkara yang sudah diijmak dan bukan tempat ijtihad)

6. Apakah perkara ( المتغير ) ‘boleh berubah’ dan syarat-syaratnya?

Perkara yang ‘boleh berubah’ adalah selaindaripada perkara sabit.Iaitulah yang bukannya dari masalah akidah, ibadah, akhlak-akhlak utama, bukan juga dari hukum qatie yang tidak menerima sebarang perubahan, seperti masalah pewarisan harta yang sudah disebutkan secara jelas di dalam al-Quran dan hadis, kerana sudah disepakati oleh seluruh umat.Perkara sabitini tidak menerima perubahan atau ijtihad.

Perkara mutaghayyir adalah cukup banyak iaitulah segala perkara yang boleh dimasuki ijtihad.Ia dikaji di dalam ilmu fiqh dengan perbahasan yang cukup meluas. Daripada sini timbulnya perubahan fatwa. Fatwa boleh berubah mengikut 4 perkara: masa, tempat, uruf (adat setempat) dan keadaan.

Jadi di sana terdapat perkara yang boleh berubah, dan ada perkara yang tidak berubah, Iaitulah perkara yang menjadi dasar dan asas agama.

7. Perlaksanaan Syariah

Sebahagian manusia apabila mendengar kalimah undang-undang syariah terus rasa takut.Seolah-olah syariah tidak mampu memberikan keadilan.Sebenarnya syariah adalah amat bertepatan dengan nas dan akal manusia.Ia akan dilaksanakan sebagaimana dilaksanakan undang-undang biasa. Bukan bermakna apabila kita mahu melaksanakan syariah terus kita memotong tangan pencuri. Saya berpendapat perkara ini tidak akan boleh terus dilaksanakan dalam tempoh 5 tahun yang terdekat. Kita sebenarnya amat berhajat untuk mendahulukan perlaksanaan dasar, yang berkaitan dengan akidah, akhlak, ekonomi, ilmu tentang syariah.Terdapat dua juta penduduk jalanan di Mesir sekarang, yang tidak mempunyai pendidikan. Adakah apabila kita melaksanakan syariah kita terus akan memotong tangan mereka? Terlebih dahulu kita perlu mengajar mereka, memberi pemahaman, memenuhi keperluan terhadap perkerjaan, pengetahuan, dan keperluan asas.Semua ini perlu dilaksanakan sebelum dilaksanakan hudud.Bukankah Nabi memulakan dakwahnya dengan membetulkan akidah dan menanam pemahaman selama 10 tahun di Mekah.Baginda terlebih dahulu menjelaskan halal dan haram, membersihkan jiwa dan mempersiapkan manusia untuk melaksanakan syariah. Setiap pihak yang akan memegang tampuk pemerintahan amat perlu memahami perkara ini terlebih dahulu.

8. Berperingkat di dalam melaksanakan syariah

Hukum syariah banyak memberikan contoh kepada tadarruj.Contohnya pengharaman arak.Arak diharamkan menerusi beberapa peringkat di dalam beberapa ayat.Lihatlah bagaimana Allah mencipta segala perkara secara berperingkat-peringkat?pohon anak kecilIni adalah sunnah yang perlu diraikan. Bukan hudud saja syariah Islam. Tetapi banyak lagi hukum hakam syariah yang lain.

9. Siapakah yang boleh melaksanakan syariah. Negara atau umat

Sebahagian perkara syariah boleh dilaksanakan tanpa memerlukan kuasa.Contohnya makan, sembahyang, bekerja, semua perkara ini boleh dilaksanakan mengikut syariah tanpa memerlukan kepada negara.Adakah saya perlu menunggu perintah makan, baru saya makan?Tidak.Perkara berkaitan mencari rezeki yang halal mampu saya laksanakan sendiri tanpa negara.Syariah adalah semua perkara yang berkaitan dengan mukallaf, buat atau tinggalkan.Adapun perkara besar seperti hukuman hudud, hanyalah boleh dilaksanakan oleh negara. Jadi, setiap orang melaksanakan apa yang dituntut daripadanya. Tidak boleh seseorang melakukan perkara diluar bidang kuasanya.Perintah untuk melaksanakan hudud dituju kepada seluruh umat.Tetapi yang boleh melaksanakan hanyalah pemerintah. Jika pemerintah tidak melaksanakan hudud, maka semua akan berdosa. Umat dituntut untuk memastikan pemerintah melaksanakan hudud.

10. Bolehkan satu golongan melaksanakan hudud sendiri?

Tidak boleh.Tidak boleh sekumpulan manusia melaksanakan hudud sendiri.Mestilah negara yang melaksanakannya. Firman Allah taala:

يأيها الذين ءامنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم

Ulil Amri adalah ulama dalam bidang kuasanya, dan pemerintah dalam bidang kuasanya.Pemerintah perlu ditaati di dalam perkara yang Allah taala perintahkan kepadanya untuk dilaksanakan.Merekalah yang bertanggungjawab dalam perkara tersebut.Umat pula perlu membantu mereka. Jika kita menangkap pencuri, kita perlu mengajarkan dia bahawa perkara ini salah, bagaimana cara mencari rezeki.Kita tidak boleh terus memotong tangannya sebelum asas-asas ini bertapak kemas.

11. Khilaf antara mazhab

Kebanyakan hukum syariah mempunyai khilaf.Hanya sedikit sahaja yang tiada khilaf. Sesiapa yang mengkaji ilmu fiqh muqaran akan mendapati kebenaran kata-kata ini. Setengah orang mengatakan kita perlu berpegang kepada zahir nas.Tidak.Syariah mempunyai maqasid dan matlamatnya.Maqasid ini perlu diraikan.

Ibnu Taimiyah melarang orang menegah tentera Tartar minum arak. Arak diharamkan kepada kita kerana ia menyibukkan kita daripada mengingati Allah. Tetapi arak adalah lebih baik buat mereka, kerana arak menyibukkan mereka daripada membunuh.Ini adalah satu contoh pandangan terhadap maqasid. Seorang muslim perlu melihat dimanakah tarjih. Banyak pendapat bukan bermakna kita perlu mengambil semua pendapat.Tidak.Bahkan kita perlu meneliti yang manakah lebih rajih, dan mempunyai maslahah yang paling besar untuk manusia.

Kisah Ibnu Abbas, datang seorang bertanya kepadanya “Adakah pembunuh diterima taubatnya?” Ibnu Abbas melihat wajah penanya dan berkata “Pembunuh tidak diterima taubatnya.”Sahabat-sahabat beliau hairan dan bertanya kepadanya.Beliau menjawab “Aku melihat mukanya dipenuhi perasaan marah, dan dia ingin membunuh seorang mukmin.Maka aku ingin halang dia daripada membunuh.”Maka Ibnu Abbas telah menutup jalan orang tersebut daripada membunuh.Sedangkan sebelum itu beliau memberi fatwa bahawa taubat seorang pembunuh diterima Allah.

Daripada sini, para ulama berkata:

الفتوى قبل الابتلاء بالفعل غير الفتوى بعد الابتلاء بالفعل

“Fatwa sebelum sesuatu perbuatan dilakukan, adalah berbeda dengan fatwa selepas sesuatu perbuatan dilakukan.”

Kutipan artikel dari Moh Kamal bin Mansur.
Felo MANHAL PMRAM
Lihat rakaman di dalam :http://www.youtube.com/watch?v=5modTQ70vFg

SEMINAR INTERNASIONAL

syariah sesuai dengan agenda kegiatan tahun 2013, Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam STAIN Salatiga akan menyelenggarakan Temu Dekan dan Ketua Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam PTAIN seluruh Indonesia dan Seminar Internasional dengan tema “Politik Jihad dan Terorisme, Refleksi 12 Tahun Kajian Terorisme dan Penanggulangannya di Indonesia Pasca Tragedi 11 September Tahun 2011” yang akan dilaksanakan pada:Hari/ tanggal : Rabu – Jum’at / 10 -12 September 2013-08-16, Yang bertempat di Gedung Auditorium Kampus I STAIN Salatiga, Jl. Tentara Pelajar nomor 02 Salatiga.

CATATAN DARI SEMINAR NASIONAL JURUSAN SYARI’AH

syariahTanggal 30 April 2013 Jurusan Syari’ah bekerjasama dengan Percik, Polres dan Darma Wanita Persatuan STAIN Salatiga menggelar Seminar Nasional dengan tema ” Perjuangan Kaum Wanita dalam Kesetaraan Gender dalam Hukum Islam di Indonesia ” Hadir sebagai Nara Sumber diantaranya Komisionaris Perlindungan Kaum Perempuan KH Husen Muhammad. Dalam paparang Ia mengatakan bahwa Kitab “Uqudullijain ” yang membicarakan hak dan kewajiban Suami Isteri yang dijadikan rujukan para Kyai Pesantren ternyata 33 % hadis Maudhu’, 22 % hadis Dhoif, sisanya ada yang Hasan dan Sahih, namun dari sisi matan masih diperdebatkan.

SEMINAR NASIONAL JURUSAN SYARI’AH

syariahJurusan  Syari’ah   STAIN  Salatiga   bekerja sama dengan LSM  Percik, Polres  Salatiga, dan Darma Wanita  akan menggelar Seminar Nasional  dengan teima ”  Perjuangan Kaum Perempuan  dalam Kesetaraan Hukum  Islam di Indonesia ”   Seminar  tersebut mengambil tempat di Aula Kampus II  jl. Nakula Sadewa  Kembang Arum  Salatiga   dengan Nara  sumber  1. KH. Husein Muhammad  2. AKBP  Dwi Tunggal Jaladri, SIK, S.H., M. Hum.  3. Dr. Siti Ruhaeni Dzuhayatin.