PENGAJIAN AKBAR SYI’AR RAMADHAN 1447 H: RAMADHAN SEBAGAI MOMENTUM MEMAKMURKAN MASJID

Salatiga, (04/03/2026) – Dalam rangka menyemarakkan Syi’ar Ramadhan 1447 H, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan kegiatan Pengajian Akbar di Masjid Kampus 2 UIN Salatiga pada Selasa, 4 Februari 2026, pukul 12.30–14.30 WIB. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan diikuti oleh sivitas akademik serta mahasiswa umum dari Fakultas Syari’ah maupun Fakultas Dakwah yang antusias menyambut serta ikut serta meramaikan syi’ar di bulan Ramadhan.

Mengangkat tema “Ramadhan sebagai Momentum Memakmurkan Masjid”, pengajian menghadirkan penceramah Drs. KH. Jumari Al Ngluwari, M.Pd. Dalam tausiy’ahnya, beliau menekankan pentingnya meneladani sifat-sifat wajib Rasul, yaitu sidik, amanah, tabligh, dan fatanah, untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut beliau, keempat sifat tersebut menjadi fondasi utama dalam membangun pribadi muslim yang berintegritas dan berkontribusi bagi kemakmuran umat.

Lebih lanjut, KH. Jumari menyampaikan tentang perintah untuk mendengarkan dan diperdengarkan. Apa yang kita dengar dan lihat, tegas beliau, sangat memengaruhi perilaku dan karakter seseorang. Namun demikian, terdapat kendala atau penghalang dalam menerima nasihat dan wasiat kebaikan dari orang lain. Di antaranya adalah sikap merasa lebih pintar dan merasa lebih tua sehingga enggan mendengarkan. Untuk menjadi pendengar yang baik, seseorang harus memiliki sikap rendah hati dan terbuka terhadap masukan.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan tentang pentingnya ketaatan. “Siapa yang taat kepadaku maka dia menginginkan surga, dan siapa yang tidak taat maka ia enggan masuk surga,” ungkapnya, menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan jalan keselamatan.

Selain itu, disampaikan pula tentang konsep nafkah yang tepat. Nafkah yang baik bukan semata-mata yang banyak, melainkan yang sesuai dengan kebutuhan penerima. Prinsip ketepatan dan kemanfaatan ini menjadi bagian dari nilai keadilan sosial dalam Islam.

KH. Jumari juga mengibaratkan kehidupan sebagai jalan mendaki, yaitu jalan yang penuh perjuangan dan pengorbanan. Salah satu bentuk pengorbanan tersebut adalah memerdekakan budak, yang dalam konteks kekinian dimaknai sebagai membantu orang lain mencapai cita-cita tertingginya dan membebaskan mereka dari berbagai keterbatasan.

Dalam kaitannya dengan tema besar syi’ar ramadhan, beliau merujuk pada Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 18 tentang kriteria orang-orang yang memakmurkan masjid. Disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang: (1) beriman kepada Allah dan hari akhir, (2) mendirikan sholat, (3) menunaikan zakat, dan (4) senantiasa berjamaah. Beliau menegaskan bahwa tidak semua orang yang mendirikan masjid otomatis termasuk dalam kategori memakmurkan masjid apabila salah satu dari empat kriteria tersebut belum terpenuhi dalam dirinya.

Pengajian Akbar ini diharapkan menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi seluruh peserta untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat iman, meningkatkan ketaatan, serta benar-benar memakmurkan masjid tidak hanya secara fisik, tetapi juga melalui ibadah dan aktivitas keagamaan yang berkelanjutan.

Kontributor: Encep Bahru Jaman (Direktur Media Center Fakultas Syari’ah)