Fakultas Syariah UIN Salatiga Gelar Kuliah Tamu: Mengupas Prinsip Monogami dalam Perkawinan Adat Samin Kudus

Salatiga, 15 September 2025 – Tradisi perkawinan masyarakat Samin kembali menjadi perhatian akademisi. Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menggelar kuliah tamu dengan tema “Exploring the Monogamy Principle in the Samin Community’s Customary Marriages in Kudus: Harmonisation of Tradition and State Law”, Senin (15/9). Acara yang berlangsung melalui ruang virtual zoom meeting ini menghadirkan Dekan Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim, Dr. Iman Fadhilah, M.S.I., sebagai narasumber.

Kuliah tamu yang diinisiasi oleh redaktur Jurnal Ijtihad ini dipandu oleh Ahmadi Hasanudin Dardiri, M.H., selaku Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam UIN Salatiga, serta dibuka oleh Prof.Dr. Ilyya Muhsin, M.Si., (Dekan Fakultas Syariah UIN Salatiga). Sekira 150 peserta turut hadir melalui zoom meeting yang terdiri dari para dosen, mahasiswa dan para pemerhati hukum keluarga. Hadir pula civitas akademika dari berbagai kampus dan pengurus Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam (ADHKI), sehingga forum berlangsung dengan nuansa interaktif dan lintas perspektif.

Prof. Dr. Ilyya Muhsin dalam opening speech menyampaikan bahwa kuliah tamu ini merupakan agenda diskusi bulanan yang diinisiasi Editor in Chief dan Managing Editor Jurnal Ijtihad dengan menghadirkan narasumber dari berbagai perguruan tinggi lain. Acara ini sekaligus menjadi implementasi kerja sama antara Fakultas Syariah UIN Salatiga dengan Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim.

“Tema ini dipilih karena masyarakat Samin memiliki banyak keunikan yang membedakan mereka dari kelompok lain. Pertanyaannya, apakah keunikan-keunikan itu masih bertahan di tengah arus perubahan zaman, ataukah mulai pudar? Inilah yang perlu terus diteliti,” tutur Prof. Ilyya.

Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai forum diskusi semata, melainkan menjadi inspirasi untuk penelitian-penelitian selanjutnya, terutama yang mengkaji hubungan antara hukum adat, hukum Islam, dan hukum negara.

Dalam paparannya, Dr. Iman menjelaskan bahwa komunitas Samin di Desa Lirikrejo, Kudus, sejak lama memegang teguh prinsip monogami yang dikenal dengan ungkapan bojo siji kangge selawase (satu istri untuk selamanya). Prinsip ini tidak hanya sekadar aturan sosial, tetapi juga dihayati sebagai sumpah janji oleh wong sikep dalam setiap ikatan perkawinan.

“Bagi masyarakat Samin, monogami bukan hanya pilihan, melainkan komitmen yang menyatu dengan cara hidup mereka. Prinsip ini dijalankan untuk menjaga stabilitas rumah tangga, mencegah konflik, dan memastikan keharmonisan keluarga tetap terjaga,” ungkap Dr. Iman.

Ia menambahkan, poligami masih menjadi topik kontroversial di banyak negara muslim dengan variasi regulasi yang berbeda. Di Indonesia sendiri, praktik poligami diperbolehkan dengan syarat yang ketat, namun tidak semua komunitas memilih jalan tersebut. “Komunitas Samin justru mengambil sikap tegas, mereka menolak poligami karena diyakini dapat memicu pertengkaran dan keretakan rumah tangga,” ujarnya.

Seiring perubahan zaman, muncul pertanyaan apakah prinsip monogami ini masih tetap dijalankan atau mulai tergerus modernisasi. Dr. Iman menilai, hingga kini nilai tersebut masih kuat melekat dalam kehidupan sosial masyarakat Samin. “Modernisasi membawa banyak perubahan, tetapi tidak serta-merta menghapus nilai-nilai yang mereka pegang. Prinsip bojo siji kangge selawase tetap menjadi fondasi yang dijaga sebagai bentuk kesetiaan,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa keberadaan prinsip monogami Samin patut diperhatikan dalam diskursus akademik karena mampu menunjukkan bagaimana komunitas adat menafsirkan aturan keluarga dengan caranya sendiri. Di sisi lain, praktik ini dapat dibaca sebagai upaya harmonisasi antara hukum negara dan hukum adat.

Suasana diskusi berlangsung dinamis. Peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, hingga pengurus ADHKI aktif mengajukan pertanyaan. Beberapa di antaranya menyoroti bagaimana prinsip monogami Samin dapat dipandang sebagai kearifan lokal yang sejalan dengan nilai hukum keluarga Islam, sekaligus mempertanyakan tantangan yang muncul jika generasi muda Samin mulai bersentuhan lebih intens dengan dunia luar.

Dr. Iman menjawab dengan menekankan pentingnya melihat konteks sosial. “Adat tidak berdiri sendiri, ia hidup bersama masyarakat. Jika generasi muda masih merasa relevan dengan prinsip monogami ini, maka ia akan bertahan. Tetapi jika ada perubahan, maka hukum adat pun akan menyesuaikan diri. Yang penting, nilai dasar berupa kesetiaan dan keharmonisan tetap dijaga,” jelasnya.

Diskusi ini juga memperlihatkan bagaimana hukum adat dapat berjalan seiring dengan regulasi negara. Dalam konteks hukum keluarga di Indonesia, perkawinan monogami adalah prinsip dasar, meski poligami tetap terbuka dengan syarat ketat. Dengan demikian, praktik perkawinan masyarakat Samin tidak hanya sejalan dengan nilai adat mereka, tetapi juga selaras dengan ketentuan negara.

Bagi banyak akademisi yang hadir, fenomena ini menarik karena memperlihatkan titik temu antara tradisi dan regulasi. Kajian semacam ini juga memperluas pemahaman tentang bagaimana hukum bekerja di level lokal, yang sering kali berbeda dengan gambaran umum di masyarakat luas.

Acara kuliah tamu Fakultas Syariah UIN Salatiga ditutup dengan harapan bahwa diskusi lintas kampus ini dapat terus berlanjut. Selain memperkaya pengetahuan akademik, forum semacam ini juga membuka ruang untuk riset kolaboratif yang lebih mendalam.

“Diskusi ini bukan akhir, melainkan awal dari kajian yang lebih luas. Semoga semakin banyak peneliti yang tertarik untuk meneliti komunitas Samin, tidak hanya soal perkawinan, tetapi juga aspek sosial dan budayanya yang lain,” pungkas Prof. Ilyya.

Dengan demikian, kuliah tamu ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga mempertegas pentingnya menjaga dialog antara tradisi dan hukum negara. Di tengah arus modernisasi, prinsip monogami ala Samin tetap memberi pelajaran bahwa kesetiaan dan keharmonisan adalah fondasi keluarga yang tak lekang oleh waktu.

Diskusi Bulanan Prodi HTN: Menakar Peran MK dalam Menjaga Arah Legislasi Demokrasi

Salatiga, (28/08/2025) – Program Studi Hukum Tatanegara (HTN) Fakultas Syari’ah UIN Salatiga kembali menyelenggarakan kegiatan Diskusi Bulanan secara daring yang kali ini mengangkat tema “Peran Mahkamah Konstitusi dalam Menjaga Arah Legislasi Demokrasi: antara Penegakan Konstitusi dan Dinamika Politik”, pada 28 Agustus 2025.

Kegiatan ini dihadiri oleh para mahasiswa fakultas Syari’ah, Aini Rahmania, S.H., M.H. sebagai narasumber dan Galih Aji Nugroho sebagai moderator. Diskusi bertujuan memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai bagaimana Mahkamah Konstitusi (MK) memainkan peran strategis dalam memastikan legislasi tetap selaras dengan prinsip-prinsip demokrasi dan konstitusi, meskipun seringkali harus berhadapan dengan tarik-menarik kepentingan politik.

Dalam paparannya, narasumber menekankan bahwa MK tidak hanya bertugas sebagai pengawal konstitusi, tetapi juga berfungsi sebagai tetapi juga sebagai penafsir konstitusi yang mampu menegaskan batas-batas kekuasaan legislatif. Melalui putusan-putusan strategisnya, MK berusaha mengawal agar setiap produk hukum yang lahir dari lembaga legislatif tidak menyimpang dari nilai-nilai demokrasi dan prinsip konstitusionalitas.

Diskusi berlangsung dinamis, dengan mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan serta menyampaikan pandangan kritis mereka terkait hubungan antara hukum dan politik. Beberapa isu aktual, seperti pembatalan undang-undang yang dinilai bermasalah dan perdebatan seputar kewenangan MK, menjadi bahan perbincangan yang menarik.

Narasumber menyampaikan bahwa kegiatan Diskusi Bulanan ini akan terus dilaksanakan sebagai wadah akademik untuk melatih mahasiswa berpikir kritis, peka terhadap isu-isu konstitusional, serta membiasakan diri berdialektika dengan sudut pandang akademis.

“Diskusi ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa mengenai peran vital MK dalam menjaga arah demokrasi di Indonesia, sekaligus membangun kesadaran bahwa hukum tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik,” ungkapnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan rangkuman poin-poin penting yang diharapkan dapat menjadi bahan refleksi dan bekal bagi mahasiswa dalam mengembangkan keilmuan di bidang hukum tata negara.

Mahasiswa Fasya Berhasil Kembangkan Website SIMADES untuk Desa Ketanggi

Selasa, (26 Agustus 2025) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, 9 mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Setanggi yakni Zamhuri Maknawi, Aulia Rachma, Danu Hermantyo, Riska Dini Al Nandalucia, Tutut Safitri, Muhammad Azka Rosada, dan Adi Tri Febrianto dari Prodi Hukum Tata Negara serta Degga Arum, Nabila Khusnul dari Prodi Hukum Keluarga Islam berhasil menciptakan sebuah terobosan yang membawa angin segar bagi masyarakat Desa Ketanggi. Mereka sukses mengembangkan sebuah website desa bernama SIMADES (Sistem Informasi Desa) yang berfungsi sebagai pusat informasi dan layanan digital bagi warga.
Pembuatan website ini berawal dari ide sederhana para mahasiswa KKN yang melihat masih terbatasnya akses informasi di lingkungan masyarakat pedesaan. Selama menjalankan program KKN, para mahasiswa menemukan bahwa banyak warga yang masih kesulitan memperoleh informasi terkait pelayanan administrasi desa, pengumuman kegiatan, hingga berita-berita terbaru. Dari sinilah muncul gagasan untuk menghadirkan sistem informasi berbasis website yang mudah diakses oleh siapa saja.
Dengan modal kemampuan otodidak, para mahasiswa mulai merancang konsep dasar SIMADES. Dalam waktu kurang dari satu minggu, mereka berhasil menyelesaikan website tersebut, meskipun harus melalui proses panjang yang penuh tantangan. Tahapan pengerjaan dimulai dari pembuatan prototype, kemudian dilanjutkan dengan proses coding, penyambungan link antar halaman, hingga tahap akhir yaitu finishing dan pengujian sistem.
Selama proses tersebut, berbagai kendala teknis sempat muncul, terutama pada bagian pengkodean dan tampilan antarmuka. Namun semangat kerja sama tim serta keinginan kuat untuk memberikan kontribusi nyata kepada desa membuat mereka tidak mudah menyerah. Mereka terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan hingga akhirnya website dapat berjalan dengan baik dan siap digunakan.
“Membangun website ini bukan perkara mudah. Banyak penyesuaian yang harus dilakukan agar sesuai dengan prototype awal. Namun kami bersyukur, berkat kerja keras teman-teman, akhirnya SIMADES bisa selesai tepat waktu,” ujar Zamhuri Maknawi, Koordinator Desa dari kelompok KKN UIN Salatiga.
Zamhuri juga menambahkan bahwa kehadiran website SIMADES diharapkan mampu mendukung digitalisasi pelayanan publik di Desa Ketanggi. Melalui platform ini, masyarakat bisa mengakses berbagai informasi penting seperti data administrasi, berita desa, agenda kegiatan, hingga informasi bantuan sosial secara online tanpa perlu datang langsung ke kantor desa.
Sementara itu, pihak pemerintah desa menyambut positif inovasi yang dihadirkan mahasiswa tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi kerja keras mahasiswa KKN UIN Salatiga. Pembuatan website ini sangat membantu kami dalam mempercepat pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah desa menuju tata kelola yang lebih transparan dan modern,” tutur Ariyanto, S.H.I, selaku Sekretaris Desa Ketanggi.
Ariyanto menambahkan, dengan adanya SIMADES, perangkat desa kini memiliki sarana baru untuk menyampaikan informasi secara lebih cepat dan akurat. Hal ini juga membuka peluang bagi masyarakat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam pembangunan desa melalui kanal komunikasi digital yang tersedia.
Kini, website SIMADES telah resmi diluncurkan dan dapat diakses melalui mesin pencarian Google. Warga desa pun sudah mulai memanfaatkan fitur-fitur yang tersedia, seperti layanan administrasi online, berita desa terkini, serta informasi seputar kegiatan masyarakat.
Melalui keberhasilan ini, mahasiswa KKN UIN Salatiga tidak hanya menunjukkan kemampuan akademik dan teknis mereka, tetapi juga membuktikan bahwa kontribusi nyata terhadap masyarakat dapat diwujudkan melalui semangat inovasi dan kepedulian sosial.
Dengan adanya SIMADES, Desa Ketanggi kini semakin siap melangkah menuju era digitalisasi pemerintahan desa, di mana keterbukaan informasi dan kemudahan akses layanan menjadi kunci utama kemajuan masyarakat.

Kontributor: Zamhuri Maknawi

Penutupan PBAK Fakultas Syariah, Mahasiswa Baru Siap Kuliah

Salatiga, (22/08/2025)- Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Syariah resmi ditutup pada Jumat, 22 Agustus 2025. Penutupan dilakukan seremonial oleh Dekan Fakultas Syariah, Prof. Dr. Ilyya Muhsin, M.Si dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Sukron Ma’mun, Ph.D.

Dekan Fakultas Syariah menyatakan bahwa PBAK tersebut diharapkan menjadi pintu mengenal kultur akademik kampus dan bagaimana menjalaninya dengan baik.

“Setelah ini kalian resmi akan melakukan perkuliahan, ikuti budaya akademik yang ada. Rajin dan giat belajar agar sukses menyertai kalian semua. Jangan terkecoh dengan banyak hal yang akan merugikan proses belajar di kampus. Kalian sekarang sudah bukan siswa lagi yang diatur guru, tetapi kalian adalah mahasiswa yang mengatur diri kalian sendiri”, ujar Prof. Ilyya.

Sebelum penutupan secara resmi, PBAK hari kedua dimulai dengan penampilan Hadroh dari Mahasiswa Fakultas Syariah. Dilanjut pemaparan materi dari conten creator sekaligus speaker, Dr. Hendi Pratama, S.Pd., M.A. tentang Sosial, Hukum, Politik, dan Moderasi Beragam.

Setelah itu Perkenalan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) yang terdiri dari Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Syariah, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah, Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (HTN), dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES).

Kemudian Perkenalan dari Badan Semi Otonom Mahasiswa (BSOM), antara lain ada Lembaga Kajian Hukum (LKH), Forum Diskusi Santri (FGD), dan  Moot Court Community (MCC) serta Media Center Fakultas (MCF’s). Tak ketinggalan dari Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) melakukan pengenalan sekaligus sosialisasi mengenai pencegahan pelecehan seksual dalam kampus.

Penutupan ini juga diikuti serangkaian seremonial pemberian hadiah lomba-lomba yang diselenggarakan selama PBAK berlangsung, ada jenis kategori lomba, Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK), dan Yel-yel,

Ketua panitia PBAK, Reza Umabara menyatakan lega telah terselenggaranya kegiatan tersebut, meskipun ada sedikit kendala. “Alhamdulillah hari terakhir ini tidak ada yang sakit, meski pun pada hari pertama ada yang sakit, karena mungkin kecapeean. Semoga yang sakit lekas sehat kembali”, ujarnya dalam sambutan.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Sukron Ma’mun, Ph.D menyatakan senang PBAK bisa berjalan dengan baik. Dia berharap bahwa PBAK ini dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi mahasiswa baru dan melewati fase awal memasuki perkuliahan dengan baik.

Kontributor: Ilma Yuni Fatichia (Mahasiswa HKI Angkatan 2022).

Content Creator Hendi Pratama Sapa Mahasiswa Baru Fakultas Syariah UIN Salatiga

Salatiga, (22/08/2025)- Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Syariah UIN Salatiga hari kedua tepatnya Jumat, 22 Agustus 2025 bertempat di halaman Ma’had Al-Jami’ah Putra UIN Salatiga telah mendatangkan conten creator Dr. Hendi Pratama, S.Pd., M.A. Beliau adalah speaker, trainer, dosen, dan coach tranformasi pendidikan.

Hendi menyampaikan materi dengan tema ”Menavigasi Tantangan Masa Depan: Sosial, Hukum, Politik, dan Moderasi Beragama” yang dihadiri oleh 289 mahasiswa baru Fakultas Syariah. Jumlah tersebut terdiri dari 113 mahasiswa baru program studi Hukum Keluarga Islam (HKI), 93 dari program studi Hukum Tata Negara (HTN), dan 83 dari program studi Hukum Ekonomi Syariah.

Beliau menjelaskan tanpa Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mungkin tidak akan pernah ada. Pancasila berhasil mempersatukan kerajaan dan kesultanan secara sukarela untuk bergabung dengan NKRI, di antaranya ada Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kesultanan Ternate, Kesultanna Tidore, Kerajaan Aceh, Kesultanan Pontianak, Kerajaan Klungkung (Bali), Kesultanan Riau-Lingga, Kerajaan-kerajaan Dayak (Kalimantan), Kesultanan Bone (Sulawesi Selatan), Kesultanan Buton (Sulawesi Tenggara), Kerajaan Gowa (Sulawesi Selatan), Kesultanan Bima (Nusa Tenggara Barat), Kesultanan Sambas, Kesultanan Banjar (Kalimantan Selatan), dan Kesultanan Palembang Darussalam.

Selain itu, setiap sila dalam Pancasila memiliki makna yang luar biasa. “Sila pertama mencakup Tuhan kita dan Tuhan warga yang lain dengan tidak memaksakan agama kepada orang lain dan menyadari interaksi serta batasan interaksi antara hukum agama dan hukum negara” tuturnya.

Sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab artinya pemimpin adil dengan rakyatnya, juga rakyat harus adil kepada sesama dan adil kepada negara misalnya dengan rajin membayar pajak. Makna beradab contoh sederhannya belajar mengantri, berlalu lintas yang baik, dan menjaga postingan atau komentar di sosial media.

Kemudian menyadari makna dari sila ketiga yakni Persatuan Indonesia, bahwasanya Indonesia itu luas dan beragam. Ia terdiri dari suku, wilayah, dan kebiasaan masing-masing.

“Implementasinya bisa dengan memperluas pergaulan, travelling, bersahabat dengan suku lain, dan mengajar di daerah tertinggal” imbuhnya.

Sila keempat dalam kehidupan nyata misalnya berpartisipasi dalam pemilu, tidak ikut menyebarkan hoaks politik, tidak terbawa suasana negatif dari demokrasi, dan menyadari bahwa dalam demokrasi terdapat persaingan sehat. “Kualitas demokrasi bergantung pada kualitas warga negaranya dan orang yang merasa politik terlalu kotor untuknya, akan menjadi korban politik” jelasnya.

Terakhir, sila kelima berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentang keadilan yang bukan berarti membagi rata. Keadilan adalah membagi sesuai kebutuhan, seperti beasiswa bidik misi yang hanya diperuntukkan bagi yang membutuhkan dan mengafirmasi untuk legislator perempuan.

“Hidup di sebuah negara yang kepastian hukumnya kurang bisa membuat hidup deg-degan. Kuncinya harus punya prinsip, kalau mau bergerak di bidang hukum harus punya prinsip, itulah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain” ujarnya.

Kontributor: Ilma Yuni Fatichia (Mahasiswa Hukum Keluarga Islam 2022)

Sharia Student Awards 2025, Ajang Apresiasi Mahasiswa Berprestasi Fakultas Syariah UIN Salatiga

Salatiga, (21/08/2025)- Fakultas Syariah UIN Salatiga menggelar ajang Sharia Student Awards 2025, tepat tanggal 21 Agustus 2025 sebuah penghargaan tahunan yang diberikan kepada mahasiswa berprestasi di bidang akademik maupun non-akademik. Acara ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik melalui capaian akademik, penelitian, pengabdian masyarakat, maupun prestasi di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.
 
Sukron Ma’mun, Ph.D., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, menyampaikan bahwa penghargaan ini dimaksudkan sebagai bentuk pengakuan atas kerja keras mahasiswa.
 


“Sharia Student Awards ini kami hadirkan sebagai apresiasi atas usaha dan kerja keras mahasiswa dalam mengembangkan diri. Harapannya, penghargaan ini menjadi pemacu semangat agar seluruh mahasiswa Fakultas Syariah berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Ke depan, kegiatan ini akan diselenggarakan secara rutin setiap tahun,” ujarnya.
 
Ajang Sharia Student Awards 2025 ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga bagian dari upaya Fakultas Syariah UIN Salatiga untuk melahirkan mahasiswa yang unggul dan berdaya saing global.
 
Daftar Pemenang Sharia Student Awards 2025
1. Kategori Pengabdian kepada Masyarakat (PKM)
Juara 1: Sakina Kemala Az-Zahra (HTN)
Juara 2: Latifa Elma Cahyaningrum (HTN)
Juara 3: Rindu Shalsabila Putie (HTN)
2. Kategori IPK Tertinggi
A. Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI)
2022: Reza Umbara Pratama (3,79)
2023: Muhammad Ahsan Taufiqi (3,95)
2024: Intan Nuri Mardiani (3,95)
B. Prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES)
2022: Hidayatul Nafiah dan Choerul Huda (3,85)
2023: Annisa Dinti Papita (3,95)
2024: Haykal Faiz Saputra (3,97)
C. Prodi Hukum Tata Negara (HTN)
2022: Ragil Galih Saputro dan Nderek Beliau (3,92)
2023: Anggun Pradani (3,95)
2024: Indi Gatari (3,92)
3. Kategori Juara Perlombaan (Internasional, Nasional, dan Lokal)
Juara 1: Ni’matul Aliyah (HTN 2022)
Juara 2: Zamhuri Maknawi (HTN 2022)
Juara 3: Ibnu Achsinul Umam (HKI 2023) dan Ragil Galih Saputro (HTN 2022)
4. Kategori Publikasi Buku dan Artikel Jurnal
Publikasi Buku (Lokal): Latifa Elma Cahyaningrum (HTN)
Publikasi Artikel Jurnal (Internasional): Zahra Agustina dan Majda Prawira Negara
5. Kategori Riset
Zamhuri Maknawi (HTN)
 


Penerima penghargaan Sharia Student Awards merasa senang, Intan salah satu penerima bertutur “Awalnya aku mengikuti ajang Sharia Awards ini hanya sekedar mencoba tanpa ekspektasi besar, tidak terpikir sama sekali akan bisa sampai mendapat penghargaan di bidang IPK tertinggi di angkatanku dalam lingkup prodi”
Intan belajar bahwa tidak ada usaha yang sia-sia, “kadang kita ragu untuk mencoba karena takut gagal, padahal dengan berani melangkah akan mendatangkan kesempatan baik tanpa terduga. Jadi, jangan pernah meremehkan potensi diri sendiri meski sekecil apapun itu”, pesannya.
 
“Harapan saya, Sharia Awards dapat dijadikan sebagai acara rutinan, hal ini bertujuan untuk mengapresiasi terhadap mahasiswa yang telah berprestasi baik akademik atau non akademik” harapan Zamhuri, penerima penghargaan.
 
Kontributor: Ilma Yuni Fatichia (Mahasiswa HKI 2022).

Dekan Fakultas Syariah UIN Salatiga Sampaikan Ceramah Ilmiah Moderasi Beragama pada Pembukaan PBAK 2025

Salatiga, (21/08/2025)– Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah UIN Salatiga resmi menyelenggarakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Syariah 2025, Kamis (21/08/2025) pagi di halaman Ma’had Al-Jami’ah UIN Salatiga. Kegiatan tahunan ini menjadi ajang pengenalan lingkungan kampus sekaligus pembekalan awal bagi mahasiswa baru Fakultas Syariah.

PBAK tahun ini mengusung tema “Transfer of Character and Diversity: Mencetak Mahasiswa Hukum yang Moderat, Berintegritas, Berkarya, dan Bernalar Intelektual di Era Revolusi Industri 5.0.”

Acara dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Syariah, Prof. Ilyya Muhsin, M.Si, tepat pukul 09.30 WIB. Sebelum membuka kegiatan, Prof. Ilyya menyampaikan ceramah ilmiah yang berfokus pada pentingnya moderasi beragama bagi mahasiswa hukum.

Untuk membangkitkan semangat, Prof. Ilyya mengajak mahasiswa baru menyuarakan yel-yel Fakultas Syariah. “Fakultas Syariah!” serunya. Mahasiswa pun serentak menjawab, “Keren bermartabat!” Suasana pun penuh antusias dan semangat kebersamaan.

Dalam ceramahnya, Prof. Ilyya menekankan bahwa mahasiswa hukum harus memiliki sikap moderat, yakni keseimbangan dalam menjalani kehidupan serta kemampuan bertoleransi terhadap perbedaan. Ia menyebutkan empat indikator sikap moderat yang perlu dimiliki mahasiswa.

“Indikator sikap moderat antara lain komitmen kebangsaan, toleransi terhadap perbedaan, anti kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Ilyya menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan bagian dari visi Fakultas Syariah.

“Ada ancaman serius terhadap keutuhan bangsa. Karena itu, Fakultas Syariah memiliki visi menjadi fakultas unggulan dalam moderasi Islam, kepeloporan ilmu syariah dan ilmu hukum, yang adaptif terhadap teknologi demi keluhuran martabat kemanusiaan tahun 2045,” tegasnya.

Menutup ceramah ilmiahnya, Prof. Ilyya memberikan pesan motivasi berupa kunci sukses dalam menempuh studi di Fakultas Syariah.

“Kunci sukses belajar di Fakultas Syariah adalah belajar sungguh-sungguh di kelas, mengerjakan tugas tepat waktu, belajar mandiri, aktif berorganisasi, berbakti kepada orang tua, dan berbakti kepada sesama,” pesannya.

Ceramah ilmiah tersebut menjadi penanda resmi dibukanya PBAK Fakultas Syariah 2025.

Kontributor: Muhammad Nur Fadlan (Mahasiswa HTN angkatan 2023)

Pertahankan Kesenian Nasional, PBAK Fakultas Syariah Tampilkan Tari Angguk Angglang

Salatiga, (21/08/2025)- Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga Tahun 2025 tampilkan tari angguk angglang. Penampilan tari tersebut merupakan bagian dari rangkain acara pembukaan hari pertama PBAK Fakultas Syariah sekaligus menyambut para tamu undangan.

Tari angguk angglang berhasil ditampilkan oleh tiga anggota sangar tari dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Getar UIN Salatiga. Secara filosofis tarian tersebut memiliki makna ungkapan rasa bersyukur dengan cara mengangguk-anggukan kepala. Jika dikorelasikan, tarian tersebut sesuai dengan acara PBAK yang telah resmi dibuka tanpa ada suatu halangan apapun.

“Tadi saya sempat deg-degan sebelum tampil, tapi sekarang sudah lega telah berhasil membawakan tarian angguk angglang diacara PBAK Fakultas Syariah”, ungkap afi salah satu tim tari. “Harapan saya berbagai tarian dapat dikembangkan dan ditampilkan diacara-acara lain  teruntuk bagi sanggar getar selaku unit kegiatan mahasiswa dapat berkontribusi”, tambah afi sembari tersenyum.

Setiap kesenian tari tentu memiliki arti tersendiri, untuk itu kita sebagai generasi muda sudah selayaknya untuk melestarikan dan mempertahankannya. Penampilan tari angguk angglang diacara PBAK Fakultas Syariah ditutup dengan sesi dokumentasi bersama.

Kontribusi: Zamhuri Maknawi (Mahasiswa Hukum Tata Negara 2022)

Dekan Syariah berikan penghargaan kepada dosen dalam ajang Syariah Award 2025

Salatiga, (11/08/2025)- Fakultas Syariah menggelar Shariah Awards 2025, sebuah ajang apresiasi bagi dosen dan mahasiswa berprestasi yang aktif dalam kegiatan akademik maupun nonakademik. Acara ini berlangsung di Aula Lantai 3 Gedung Dekanat Fakultas Syariah, bertepatan dengan prosesi pelepasan purna tugas Ibu Dra. Astuti Sakdiah, M.Pd.

Hadir dalam kegiatan ini para dosen, pimpinan fakultas, serta perwakilan organisasi mahasiswa (ORMAWA) Fakultas Syariah. Agenda dimulai pukul 09.30 WIB dengan pembacaan basmalah, dilanjutkan prosesi Khotmil Quran yang dipimpin Bapak Erkham Maskuri, Lc. Prosesi tersebut bertujuan mendoakan kemajuan Fakultas Syariah sekaligus mengiringi Ibu Astuti Sakdiah memasuki masa purnabakti.

Usai doa bersama, dilanjutkan pengumuman nominasi dan pemenang Shariah Awards 2025 yang dibacakan oleh Ketua Panitia Penilaian, Dr. Ali Geno Berutu, M.Ag. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya kedisiplinan administrasi bagi dosen.

“Pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi bagi dosen yang aktif dan tertib administrasi. Bagi yang belum masuk nominasi, semoga termotivasi untuk lebih aktif dan tertib lagi,” ujarnya.

Dekan Fakultas Syariah, Prof. Dr. Ilyya Muhsin, M.Si., dalam kesempatan yang sama, menekankan bahwa ajang ini bukan sekadar pamer prestasi, melainkan dorongan untuk meningkatkan kinerja.

“Shariah Awards bukan ajang gagah-gagahan, melainkan sarana untuk mendorong para dosen tertib administrasi sehingga dapat membantu fakultas menyelesaikan tugasnya dengan baik,” tegasnya.

Tahun ini, Prof. Dr. Ilyya Muhsin, M.Si. berhasil meraih penghargaan terbanyak di antara empat kategori yang diperlombakan. Adapun rincian peraih penghargaan adalah sebagai berikut:

  1. Kategori Dosen Terbaik versi Evaluasi Dosen oleh Mahasiswa (EDOM)
    1. M. Chairul Huda (89,691)
    1. Sukron Ma’mun (88,725)
    1. Nur Mifchan Sholihin (88,48)
  2. Kategori Dosen dengan Publikasi Terbanyak (SINTA)
    1. Dr. M. Chairul Huda, M.H. (Peringkat 1 SINTA)
    1. Prof. Dr. Ilyya Muhsin, M.Si. (Peringkat 2 SINTA)
    1. Sukron Ma’mun, Ph.D. (Peringkat 3 SINTA)
  3. Kategori Rekognisi (Pembicara Seminar)
    1. Prof. Dr. Ilyya Muhsin, M.Si.
    1. Cholida Hanum, M.H.
    1. Endang Sriani, M.H.
  4. Kategori Pengabdian kepada Masyarakat
    1. Cholida Hanum, M.H. (37 kegiatan)
    1. Prof. Dr. Ilyya Muhsin, M.Si. (24 kegiatan)
    1. Dr. Farkhani, M.H. (7 kegiatan)

Dengan capaian tersebut, Prof. Dr. Ilyya Muhsin, M.Si. tercatat sebagai peraih penghargaan terbanyak dalam ajang Shariah Awards 2025. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemacu semangat bagi seluruh sivitas akademika Fakultas Syariah untuk terus berkarya, berprestasi, dan mengabdi.

Kontributor: Muhammad Nur Fadlan (Mahasiswa HTN, Angkatan 2023).

Air Mata Perpisahan: Kenangan Hangat untuk Ibu Astuti Sakdiyah di Fakultas Syariah

Salatiga, (11/08/2025)– Suasana haru mewarnai sesi kesan dan pesan dalam acara pelepasan purna tugas Dra. Astuti Sakdiyah, M.Pd., Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga. Sejumlah rekan kerja dan staf tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan kenangan dan ucapan perpisahan.

Sesi ini diawali oleh Nastangin, M.H.I., yang mengungkapkan rasa kehilangan mendalam atas berakhirnya masa tugas Ibu Astuti. Menurutnya, kehadiran sosok yang dikenal ramah namun tegas ini akan sangat dirindukan oleh civitas akademika, khususnya di lantai 1 Gedung Dekanat Fakultas Syariah.

“Pastinya saya akan merasa sedih dan rindu, karena nantinya tidak ada lagi suara Ibu Astuti di lantai 1 gedung dekanat. Beliau juga menjadi teladan dalam bekerja. Saat ada perselisihan terkait pekerjaan, beliau mampu menyelesaikannya dengan profesional dan tidak membawa masalah ke ranah pribadi. Di luar pekerjaan, beliau kembali bersikap seperti biasa tanpa ada sedikit pun rasa marah,” ujarnya.

Setelah itu, giliran Handayani, salah satu staf yang bekerja langsung di bawah koordinasi Ibu Astuti, menyampaikan kesan pribadi. Ia menilai, Ibu Astuti adalah sosok pengayom yang memiliki kepedulian tinggi terhadap rekan-rekannya, serta dikenal memiliki jaringan relasi yang luas.

“Beliau sangat perhatian kepada staf. Ketika ada yang mengalami kesulitan, beliau selalu membantu dengan senang hati hingga masalah itu terselesaikan. Selain itu, beliau adalah pribadi yang memiliki relasi sangat luas, yang jarang dimiliki oleh pejabat setingkat beliau,” tuturnya.

Penyampaian kesan dan pesan dari Ibu Handayani menjadi penutup sesi tersebut. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan dari para dosen kepada Ibu Astuti Sakdiyah, disusul sesi foto bersama dan makan siang bersama seluruh tamu undangan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi penutup rangkaian acara pelepasan purna tugas dan Khotmil Quran yang digelar pada hari itu, meninggalkan kenangan hangat dan rasa kekeluargaan yang kuat di lingkungan Fakultas Syariah.

Kontributor: Muhammad Nur Fadlan (Mahasiswa HTN, 2023)