Dari Sampah Sungai ke Pupuk Organik Cair, KKN Gema Karta Fakultas Syari’ah Dorong Solusi Berkelanjutan di Kauman

Boyolali, (8 Agustus 2026)— Persoalan sampah di Desa Kauman, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, tidak berhenti pada tumpukan sampah yang memenuhi aliran sungai. Setelah sebelumnya melakukan aksi bersih-bersih di sejumlah titik sungai di Dusun Cekelan, mahasiswa KKN Gema Karta Fakultas Syari’ah UIN Salatiga mulai mendorong langkah lanjutan: mengubah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair.

Langkah tersebut diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan sosialisasi yang digelar di Balai Desa Kauman, Wonosegoro, Boyolali, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mencari alternatif penyelesaian persoalan sampah yang tidak hanya berhenti pada kegiatan membersihkan lingkungan, tetapi juga menyentuh bagaimana sampah dapat dikelola sejak dari sumbernya.

Sebelumnya, dalam kegiatan bersih-bersih sungai yang dilakukan pada 25–26 Juli dan kembali dilaksanakan pada 1-2 Agustus 2026, mahasiswa KKN Gema Karta menemukan berbagai jenis sampah yang menumpuk di sepanjang aliran sungai Dusun Cekelan. Sampah tersebut terdiri atas sampah organik maupun anorganik, bahkan ditemukan pula barang-barang berukuran besar seperti kasur bekas, pakaian, karung, dan berbagai barang rumah tangga yang sudah tidak terpakai. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat aliran air dan menimbulkan persoalan lingkungan, terutama ketika musim hujan.

Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan sampah di Kauman bukan semata-mata persoalan kebersihan sungai. Salah satu persoalan yang mencuat adalah belum tersedianya Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang memadai. Dalam kegiatan sebelumnya, bahkan muncul pertanyaan dari seorang warga kepada mahasiswa setelah sungai selesai dibersihkan.

“Sudah bersih? Kalau sudah dibersihin, lalu buang sampah ke mana ya?”

Pertanyaan sederhana tersebut menjadi gambaran bahwa membersihkan sungai hanyalah salah satu bagian dari persoalan. Selama masyarakat belum memiliki sistem pengelolaan sampah dan fasilitas pembuangan yang memadai, potensi munculnya kembali tumpukan sampah tetap terbuka.

Dari persoalan tersebut, mahasiswa KKN Gema Karta mencoba melihat sampah dari sudut pandang berbeda. Sampah tidak seluruhnya harus berakhir di tempat pembuangan. Sampah organik rumah tangga yang selama ini dianggap tidak berguna justru dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat bagi masyarakat, salah satunya pupuk organik cair.

  • Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah

Kegiatan sosialisasi tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Kauman, Bapak Widodo, S.Pd., Ketua PKK Asri Pamungkas, kelompok PKK, serta perwakilan RT dan RW dari wilayah Desa Kauman. Mahasiswa KKN UNDIP dan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Salatiga juga turut mengikuti kegiatan tersebut.

Kehadiran kelompok PKK menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Sebab, pengelolaan sampah organik pada dasarnya dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Sisa sayuran, kulit buah, ampas kopi atau teh, hingga nasi basi yang biasanya dibuang begitu saja dapat dipisahkan dan dimanfaatkan sebagai bahan dasar pengolahan.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai, tetapi juga memperkenalkan cara agar sebagian sampah yang dihasilkan dari rumah tangga dapat kembali memiliki nilai guna.

Dalam pemaparannya, Aditiya Januar Putra Pamungkas menjelaskan alat, bahan, serta tahapan pembuatan pupuk organik cair dengan metode yang sederhana sehingga dapat dipraktikkan oleh masyarakat.

Menurut materi yang disampaikan, pembuatan dapat memanfaatkan dua buah galon air minum bekas berukuran 19 liter. Galon tersebut dimodifikasi dengan membuat lubang ventilasi dan lubang untuk menampung hasil lindi. Sebuah kran plastik dipasang untuk memudahkan proses pengambilan cairan hasil pengolahan.

Bahan yang digunakan pun relatif mudah ditemukan. Sampah organik dapur menjadi bahan utama, sedangkan proses penguraian dibantu dengan cairan EM4 dan gula merah yang dapat diganti dengan gula pasir atau molase. Air bersih digunakan dalam proses pencampuran, sementara tanah atau kompos dapat ditambahkan sebagai starter mikroorganisme. Sekam padi, serbuk gergaji, atau daun kering digunakan untuk membantu menyerap kelebihan air dan menjaga kondisi bahan.

Jenis sampah yang digunakan juga perlu diperhatikan. Sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, ampas kopi atau teh, serta nasi basi dapat dimanfaatkan. Sebaliknya, daging, tulang, dan minyak dalam jumlah berlebih perlu dihindari agar proses pengolahan dapat berlangsung lebih sesuai.

  • Dari Aksi Bersih-Bersih Menuju Pemberdayaan

Apa yang dilakukan mahasiswa KKN Gema Karta menunjukkan adanya perubahan pendekatan dalam menghadapi persoalan lingkungan di Kauman. Jika kegiatan sebelumnya berfokus pada membersihkan sampah yang telah terlanjur menumpuk di sungai, kegiatan kali ini mencoba menyentuh persoalan dari hulu, yakni bagaimana sampah rumah tangga dikelola sebelum berakhir di lingkungan.

Perubahan pendekatan tersebut penting karena aksi bersih-bersih yang dilakukan secara berkala tidak akan menyelesaikan persoalan apabila sumber sampah tidak ikut ditangani. Sungai yang telah dibersihkan dapat kembali dipenuhi sampah apabila masyarakat tidak memiliki alternatif pengelolaan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, sosialisasi pupuk organik cair menjadi upaya untuk memperkenalkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana dan berada dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kelompok PKK memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Melalui rumah tangga, pemilahan sampah organik dapat menjadi kebiasaan baru. Sampah yang sebelumnya langsung dibuang dapat dikumpulkan dan diolah. Jika praktik tersebut dilakukan secara konsisten oleh lebih banyak rumah tangga, jumlah sampah organik yang masuk ke lingkungan dapat ditekan.

Lebih jauh, hasil pengolahan berupa pupuk organik cair juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman di lingkungan rumah maupun kegiatan penghijauan desa. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya berbicara mengenai bagaimana membuang sampah, tetapi juga bagaimana mengembalikan sebagian material organik ke lingkungan dalam bentuk yang lebih bermanfaat.

  • Tantangan Tidak Berhenti pada Sosialisasi

Meski demikian, memperkenalkan metode pengolahan sampah bukanlah akhir dari persoalan. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan yang telah disampaikan benar-benar diterapkan oleh masyarakat.

Pengalaman mahasiswa ketika melakukan aksi bersih sungai sebelumnya menunjukkan bahwa persoalan sampah memiliki banyak lapisan. Rendahnya partisipasi masyarakat dan belum tersedianya fasilitas pembuangan sampah menjadi persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui edukasi.

Karena itu, pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair perlu dilihat sebagai salah satu bagian dari sistem pengelolaan sampah yang lebih luas. Edukasi, pemilahan dari rumah, pengolahan sampah organik, pengelolaan sampah anorganik, serta penyediaan fasilitas pembuangan tetap membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Di titik inilah keberlanjutan program KKN menjadi penting. Pengetahuan yang diberikan mahasiswa akan memiliki dampak lebih besar apabila dapat diteruskan oleh kelompok masyarakat, terutama PKK dan perangkat desa. Sebaliknya, apabila kegiatan berhenti setelah mahasiswa meninggalkan lokasi KKN, inovasi yang diperkenalkan berisiko hanya menjadi kegiatan sesaat.

  • Menjawab Pertanyaan dari Sungai

Jika pada kegiatan sebelumnya seorang warga bertanya, “Kalau sudah dibersihin, lalu buang sampah ke mana?”, maka sosialisasi pupuk organik cair setidaknya mulai menawarkan salah satu jawaban: sebagian sampah tidak harus dibuang.

Sampah organik yang dihasilkan dari dapur dapat dipilah, dikumpulkan, dan diolah. Langkah tersebut memang tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan sampah di Desa Kauman. Namun, perubahan kecil dalam cara masyarakat memperlakukan sampah dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.

Bagi mahasiswa KKN Gema Karta Fakultas Syari’ah UIN Salatiga, keberhasilan program bukan hanya ketika masyarakat mengetahui cara membuat pupuk organik cair. Ukuran yang lebih penting adalah ketika masyarakat mulai melihat sampah sebagai sesuatu yang perlu dikelola, bukan sekadar sesuatu yang harus disingkirkan dari rumah.

Dengan demikian, perjalanan KKN Gema Karta di Kauman tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah dari sungai. Gerakan tersebut berkembang menjadi upaya membangun kesadaran bahwa persoalan lingkungan membutuhkan solusi yang berkelanjutan—dari sungai yang dibersihkan, rumah tangga yang mulai memilah, hingga sampah organik yang kembali dimanfaatkan.

Pada akhirnya, sungai yang bersih bukan hanya hasil dari banyaknya tangan yang memungut sampah. Ia juga merupakan hasil dari perubahan kebiasaan masyarakat dan hadirnya sistem pengelolaan sampah yang memungkinkan masyarakat menjaga lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan.


Kontributor: Encep Bahru Jaman (Direktur MCFS)